mayangkoto

my story, my life


6 Komentar

Kenangan Belajar Bahasa Jerman

Bahasa Jerman adalah bahasa asing lain yang dipelajari di SMA saya selain bahasa Inggris pastinya. Sebetulnya, saya tidak suka belajar bahasa jerman. Tapi mau bagaimana lagi, suka tidak suka, belajar bahasa jerman itu wajib hukumnya di sekolah saya. Tidak tahu kenapa, pokoknya pelajaran bahasa jerman ini susah masuknya ke kepala saya . Kalau bisa dapat nilai 60 saja luar biasa, bersyukur. Pokoknya saya berusaha agar tidak ikut remedial bahasa jerman. Tapi biasanya mayoritas penghuni kelas (kadang-kadang 100%), akan mengikuti remedial bahasa jerman. Sayangnya, saya selalu masuk dalam rombongan tersebut😦

Guru bahasa Jerman kami perempuan. Semua kelas, dari kelas X sampai kelas XII, apapun jurusannya akan diajar bahasa Jerman oleh satu guru yang sama. Ya, sekolah kami pada waktu itu hanya punya satu orang guru bahasa Jerman. Jadi beliau ini guru paling super di sekolah kami. Soalnya cuma beliau yang punya jatah mengajar di seluruh kelas😀 . Beliau tidak mau dipanggil “Buk” , jadi kami harus panggil beliau Frau😀 . Nama beliau adalah Nela, jadi kami memanggil beliau dengan sebutan Frau Nela🙂 . Frau Nela ini mukanya bule sekali, aksen beliau ketika berbicara pun bukan aksen Minang. Karena saya waktu itu belum pernah mendengar langsung bagaimana orang Jerman berbicara. Maka saya pun berpikir aksen Frau Nela adalah aksen orang Jerman😀 .Mungkin Frau Nela ada darah eropanya, saya tidak pernah bertanya😀 . Saya menceritakan tentang guru bahasa jerman saya pada mama. Mama dulu waktu SMA di Jakarta juga belajar bahasa Jerman di sekolahnya. Guru mama mirip juga dengan guru saya. Muka bule, aksen juga seperti bule. Padahal guru bahasa jerman mama orang Minang juga sama seperti Frau Nela. Kata mama, guru bahasa jermannya pakai bahasa jerman juga dengan suaminya untuk percakapan sehari-sehari di rumah.  Frau Nela sampai saat ini masih aktif mengajar, tapi sudah pindah sekolah. Ketika saya lulus SMA di tahun 2007, lulus pulalah Frau Nela mengajar di sekolah kami. Suatu ketika, sewaktu saya beru-baru memakai facebook. Saya melihat list pertemanan teman kuliah saya. Ternyata ada nama guru saya tersebut. Langsung saya add Frau Nela, sampai saat ini masih berteman dengan beliau di facebook. Saat ini beliau mengajar di sebuah sekolah negeri di Padang.

Peraturan yang diberlakukan Frau Nela selama di kelas adalah, kalau mau permisi keluar selama jam pelajaran bahasa Jerman sedang berlangsung, maka harus minta izin menggunakan bahasa Jerman. Kalau tidak pakai bahasa Jerman, Frau Nela tidak akan kasih izin keluar. Jadi pastinya, satu sekolahan punya 1 kalimat yang pasti dihafal yaitu “Entschuldigung Frau Nela, Ich möchte zur Toilette“. Terjemahan bebasnya ” Maaf Buk Nela, saya mau ke toilet”😀 . Kalimat ini masih saya ingat sampai sekarang, walaupun realitanya kalimat ini tidak pernah saya pakai selama jam pelajaran bahasa jerman sedang berlangsung. Terus biasanya tiap hari, sebelum masuk kelas untuk jam pelajaran pertama di hari itu, kita harus baris di depan kelas masing-masing. Sebelum masuk kelas harus salam cium tangan ke guru jam pelajaran pertama. Terus pas jam pelajaran terakhir, juga cium tangan ke guru jam pelajaran terakhir, tapi tidak pakai acara baris-berbaris. Kalau kebetulan pas jam pelajaran pertama bahasa jerman, pas masuk kelas selain cium tangan juga harus bilang Guten Morgen ke Frau Nela. Jadi biasanya kita akan berbicara seperti ini ke Frau Nela “Guten Morgen Frau Nela” atau biasanya hanya “Morgen Frau Nela” . Nanti Frau Nela akan membalas juga, misalnya “Guten Morgen Mayang”😀 . Nah kalau pelajaran bahasa jerman, pas jam terakhir kita tinggal bilang Guten Tag sambil cium tangan ke Frau Nela. Kebetulan saat saya kelas X, Frau Nela menjadi wali kelas saya. Etek saya pun waktu SMA juga diajar oleh Frau Nela🙂 . Suatu ketika, hampir seluruh guru bidang studi ikut penataran sehingga banyak dari guru-guru tersebut yang tidak mengajar. Kami pun berharap Frau Nela tidak masuk kelas dan ikut penataran (Stres belajar bahasa jerman ceritanya😀 ). Tapi Frau Nela tidak kunjung absen, selalu hadir mengajar. Akhirnya salah satu dari kami yang penasaran pun bertanya, apakah Frau Nela tidak ikut penataran. Ternyata Frau Nela penataran sekali lima tahun, dan langsung pergi ke jerman untuk penataran. Yah, pupus sudah harapan absen belajar bahasa jerman selama beberapa minggu.

Belajar bahasa Jerman di sekolah saya tidak menggunakan buku paket. Jadi harus fotokopi modul punya Frau Nela. Bahasa Jerman bisa dibilang lebih rumit dari bahasa Inggris. Kata-kata bendanya punya sifat/jenis kelamin(?) . Harus menghafal artikel untuk kata-kata sesuai sifat katanya. Kalau feminin artikelnya die, maskulin artikelnya der, neutral artikelnya das. Belum lagi bentuk kasus seperti Nominativ, Akkusativ, dan Dativ

Untuk kasus dativ ini, Frau Nela mengubah lagu Bruder Jacob. Jadi dinyanyikan seperti lagu bruder jacob, tapi kata-katanya diganti dengan preposisi dalam dativ

Aus, bei, mit, nach
Aus, bei, mit, nach
Zeit, von, zu
Zeit, von, zu
Alle mit dem Dativ
Alle mit dem Dativ
Zeit, von, zu
Zeit, von zu

Masih hafal saya lagunya, tapi terus terang saya tidak mengerti lagi tentang dativ ini😀

Sekian dulu sekelumit cerita saya tentang pusingnya belajar bahasa jerman. Ceritanya saya sedang ingin mengenang masa-masa indah sekolah. Bagaimana dengan pembaca, apakah ada yang punya pengalaman pusing belajar bahasa asing juga seperti saya?🙂


4 Komentar

Berdoa Pada Tuhan

Selama beberapa waktu saya sempat berdoa “ala kadarnya” saja. Ala kadar di sini dalam arti tidak mau meminta macam-macam. Walaupun ingin sekali meminta sesuatu, tapi saya tidak mau mengungkapkannya dalam doa. Saya juga tidak tahu mengapa saya bersikap seperti itu. Mungkin karena segan (minta pada tuhan kok segan). Tapi, beberapa waktu kemudian saya tersadar bahwa memang saya harus meminta pada tuhan. Allah berfirman yang artinya “Berdoalah (mintalah) kepadaKu, niscaya Aku kabulkan untukmu” . Tuhan saja menyuruh meminta kepadaNya. Lantas, mengapa saya harus malu?

Saya jadi teringat ceramah Ustadz Wijayanto di salah satu stasiun TV tentang Doa. Kata beliau kalau berdoa harus spesifik tapi jangan sampai keterlaluan. Misalnya berdoa agar bisa punya mobil. Contoh kita berdoa seperti ini “Ya Tuhan, pengen punya mobil, pengen yang merek ini, pengen yang tipe ini, pengen yang warna ini, pengen yang ada ininya, pengen yang ada itunya, dll” . Bisa punya mobil saja harusnya sudah bersyukur, tidak perlu minta sampai segitunya kan. Begitu juga doa tidak boleh cuma bilang seperti ini pada tuhan “Tuhan, Kau tahu yang kumau”. Saya pernah berdoa seperti ini😀 . Maksud saya kan Tuhan sudah tahu isi hati saya, jadi saya tidak perlu bilang lagi kan?. Ternyata kalau kata Ustadz Wijayanto tidak boleh berdoa seperti ini. Sebutlah apa-apa yang menjadi keinginan kita, dengan sungguh-sungguh, tapi jangan kelewat spesifik seperti contoh di atas🙂

Doa Tidak Dikabulkan Tuhan

Mungkin lebih tepatnya Belum Terkabul. Atau bisa jadi yang kita minta itu menurut Tuhan bukan yang terbaik untuk kita. Bisa jadi amalan-amalan kita yang kurang. Kita meminta pada Tuhan, tapi perintahNya tidak dilaksanakan dan laranganNya tidak kita tinggalkan. Bisa jadi juga, ini penyebab belum terkabulnya doa kita padaNya. Selain itu memperbanyak amalan juga dapat mempecepat terkabulnya doa. Jangan lupa berusaha juga. Cuma berdoa “Tuhan saya ingin pintar” saja tapi tidak belajar. Otomatis tidak akan bisa pintar ya, kalau kitanya sendiri tidak mau berusaha


4 Komentar

Cerita Idul Fitri 2016

Ya, ini emang telat banget ceritanya. Tapi ya gimana lagi. Saya nebeng foto-foto di hp-nya adek, soalnya hp dia kameranya mantap abis😀 . Jadi selama ini belum sempet pindahin ke hp sendiri. Sebenarnya udah ada yang dipindahin, cuma beberapa aja, jadi ya kurang afdol kayaknya hahaha. Karena males mindahin, akhirnya tertunda terus bikin postingan tentang lebaran

Seperti biasa hari pertama kita lebarannya di Padang aja. Gak kemana-mana, di rumah aja. Hari kedua saatnya pulang kampung ke Pariaman. Kita berangkat ke stasiunnya subuh-subuh lo. Ternyata eh ternyata, keretanya baru berangkat jam 8 lewat, kan sesuatu sekali. Mana perut kosong melompong. Gak ada pemberitahuan nih, kan aslinya tu kereta berangkat jam 06.00. Ini jadi dimundurin dua jam Zzzz. Sampe di rumah amak, duduk-duduk sambil makan lontong, abis itu pergi ke rumah si om deh. Seperti biasa, si hantu air selalu beraksi

Saya selalu suka berkunjung ke rumah tante saya ini. Serba teratur dan rapi di sini🙂

 

Terlihat gunung tandikek di kejauhan

Terlihat gunung tandikek di kejauhan

Habis itu makan siang deh. Setelahnya kami pergi ke Taluak, tempat tinggal mamak saya yang paling besar. Jadi sepupu saya (anak perempuannya mak adang) kan pengantin baru ceritanya. Tradisi orang pariaman itu, pengantin baru pas lebaran itu mananti alek. Mananti alek itu nanti mertua kirimin daging untuk dibikinin soto. Nah nanti sodara, temen, rekannya si suami datang ke rumah istrinya untuk makan soto. Ternyata selain soto, keluarga mamak saya juga menyiapkan hidangan lengkap. Kata etek saya, dia dulu waktu jadi pengantin baru cuma sediakan soto aja, gak pake nasi komplit hehehe. Setelah rombongan keluarga plus temannya suaminya sepupu saya itu pulang. Saatnya dia beserta suaminya untuk pergi mengunjungi mertua dan mamak-mamak dari suaminya. Pengantin baru di Minangkabau pas lebaran pertama memang seperti itu. Tapi untuk lebaran seterusnya, cuma mengunjungi mertua saja. Bawa nasi, rendang, telur ceplok, ikan, apa lagi ya, saya juga lupa isinya apa aja. Itu semua dimasukkan ke rantang yang besar. Terus ditambah agar-agar dan kue bolu. Total ada 13 rumah yang akan dikunjungi sepupu saya sore itu. Kami (saya, mama, dua orang adik saya, etek saya, dan anak etek saya yang kembar) ikutan😀 . Kurang kerjaan banget ni hahaha, kirain cuma sebentar eh ternyata perkiraan saya salah. Itu kami berkelana mengunjungi nagari-nagari di kabupaten padang pariaman. Itu baru sebagian kecilnya pula. Baru sekali ini saya masuk jauh ke pedalaman kabupaten padang pariaman. Setelah kita kasih rantang, nanti kita dikasih uang atau bahan baju, atau bahkan rantang juga (yang baru pastinya) sebagai timbal balik atas makanan yang kita kirimkan tersebut. Untungnya sepupu saya pakai mobil bak terbuka. Pengalaman pertama saya tu, rame-rame pakai mobil kayak gitu seru banget. Tapi udah maghrib gitu yang kekirim baru 2 apa 3 gitu. Masih banyak yang lain, alamat tengah malam ini pulang ke rumah. Duduk lama-lama di lantai mobil itu gak enak. Bikin pantat sakit, kaki kesemutan. Komplit deh penderitaannya, tapi sebanding sama pengalamannya😀 . Puas banget lihat bintang-bintang di langit. Ada tempat-tempat yang isinya sawah semua, gak ada perumahan, jadi gak ada lampu. Bayangin malam-malam tempat lapang tanpa lampu. Itu bintang keliatan banget di langit. Dari utara ke selatan penuh sama bintang-bintang. Mana waktu itu saya lagi berbaring di lantai mobil. Wih pengalaman tak terlupakan, berbaring sambil melihat kumpulan bintang-bintang. Akhirnya sampai ke rumah amak tengah malam. Padahal pagi-paginya sudah harus berangkat lagi ke stasiun buat balik ke padang. Ini mama saya kok buru-buru banget pengen balik ke padang. Saya kan belum puas di kampung😦

Balik ke padang tapi adek saya yang bungsu gak mau ikutan pulang. Dia mau tinggal sama amaknya. Ya udah, dia ditinggal di kampung deh. Ternyata adek saya yang nomor 2 mau bawa kami jalan-jalan ke Malibo Anai yang lokasinya ya di padang pariaman juga. Hari itu juga kami ke pariaman lagi, kali ini pakai mobil. Buat jemput adek saya dan keluarga etek saya

Menuju malibou anai :D

Menuju malibo anai😀

Untungnya adek saya ini punya kenalan manajer di sana. Soalnya untuk menuju ke puncak anainya. Kita musti bayar dua kali. Pertama pas masuk gerbang malibo anainya, yang kedua pas mau naik ke puncak anainya. Kami ada banyak, kena berapa tu kalau musti dua kali bayar hahaha. Untungnya bisa masuk dengan gratis tis tis😀 . Waduh pas saya liat kolamnya jadi gak inget umur, langsung nyebur hahaha. Sekali nyebur langsung menggigil, gila airnya dingin banget. Bikin bibir gemetaran, keluar lagi, masuk lagi😀 . Niat hati sekalian belajar berenang, tapi ternyata saya gak bisa-bisa berenangnya. Padahal udah diajarin sama adek saya (anaknya etek). Mungkin efek takut tenggelam kali ya hahaha

Malibo anai ini berada di sekitaran kaki gunung Tandikek. Gunung tandikek ini kalau gak salah masuk kategori gunung normal aktif. Masih ada aktifitas gunungnya, soalnya di kawah gunung kita masih bisa lihat asap mengepul keluar. Pemandangan dari puncak anai ini indah banget lo

Keren banget

Keren banget

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sore-sore deh kami pulang. Abis itu nganterin keluarga etek dulu ke rumah amak. Habis itu langsung bali ke padang malam itu juga. Sampai padang perut laper, untung ada tukang martabak mesir yang tetep jualan. Heran juga malam-malam begitu, lebaran pula, tetep rame yang beli di sana😀

Besoknya kami ke danau kembar. Saya ni pengennya ke lembah harau, tapi ayah saya maunya ke solok. Ya udah deh hehehe. Saat perjalanan ke danau kembar kami singgah dulu ke kebun teh

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Masuk ke kebun teh bayar juga ternyata. Kesempatan kali ya, mumpung lebaran. Ini harga makanan di sini naiknya jadi berkali-kali lipat. Lupa berapa, tapi harga makanan di sini lebih mahal kalau dibandingkan di puncak anai kemarin.

Lanjut ke danau kembar, ini di mana-mana bayar. Masuk ke panorama danau kembar bayar. Masuk ke danaunya bayar juga. Di panorama ini kita naik ke ketinggian jadi kita bisa lihat kedua danau dari atas.

Saya padahal di sepanjang perjalanan udah ngincer stroberi, tapi adek saya gak mau berhentiin mobil😦 . Ternyata di panorama danau kembar ini ada yang jual stroberi lo sama jual aneka jenis bunga-bungaan😀 . Stroberinya per polibag harganya 10k aja. Lumayan daripada buah stroberinya. Masa’ sekotak kecil harganya 10k. Di padang aja cuma 5ribu. Mungkin aja lebih fresh tapi tetap harganya gak masuk akal. Terus saya nemu tanaman yang udah lama saya cari-cari namanya watermelon peperomia alias peperomia semangka. Banyak jenisnya, yang mirip mirip sama peperomia ini pun juga ada. Tapi saya beli cuma si peperomia semangka aja. Harganya 25ribu

Senang sekali berhasil mendapatkan tanaman-tanaman ini :)

Senang sekali berhasil mendapatkan tanaman-tanaman ini🙂

Berkeliling-keliling sambil lihat bunga-bunga yang ditanam oleh penduduk di sini. Padahal ditanam ala kadarnya, tapi tetap subur dan menghasilkan bunga-bunga yang indah. Di saya biar kata dikasih tanah yang bagus, tetep aja ada yang gak berhasil hidup.

Di panorama ini ya cuma liat pemandangan danau sama lihat bunga-bunga yang dijual aja. Gak ada yang lain. Untungnya ada polisi meramaikan suasana dengan nyanyian dangdutnya😀 . Selesai menikmati pemandangan di sini kami pun turun ke danau. Saya lupa persinya kami ni ke danau yang mana. Danau atas apa danau bawah ya hmm.

Sayang ni kawasan danaunya gak tertata dengan baik. Sampah di mana-mana, pedagang yang tidak teratur. Mana wcnya ya ampun, gak ada pintunya, kotor pula astaga >_< . Kami menyempatkan diri untuk naik perahu, ayah saya gak mau ikutan naik. Bayar per orang masing-masing Rp.10.000,- . Kirain bakalan dibawa jauh berkeliling danau. Ternyata cuma dekat aja.

Di danau itu memang matahari bersinar terik, tapi ada angin sejuk yang selalu berhembus. Jadinya udara tetap sejuk gitu. Sedikit cerita danau kembar ini merupakan kawah bekas letusan gunung talang. Selain danau di atas dan danau di bawah, ada juga danau talang. Dahsyat juga ya ini gunung talang, banyak danau dari bekas kawah lubang letusannya. Sampai sekarang gunung talang ini masih aktif. Kata ayah saya, dari kampungnya bisa terdengar gemuruh kalau gunungnya sedang aktif. Gunung talang ini satu dari 3 gunung api aktif di Sumatera barat bersama dengan gunung Marapi dan gunung Kerinci.

Habis dari danau kita cari makan. Gak di daerah danaunya sih, udah mau menuju ke kebun teh hehehe. Kena berapa ya lupa. Pokoknya lumayan. Yang disayangkan dari rumah makan sejenis ini adalah gak transparan sama biaya makannya😦 . Di sini seru, bunga dahlia dimana-mana. Sayang gak bisa diraih karena lokasinya di bawah plus ada pagarnya. Kalau gak gitu mungkin udah diambil sama pengunjung kali ya😀 . Setelahnya kami ke padang deh. Udah nyampe di padang muter dulu. Adek saya yang cewek mau lihat rumah sakit jiwa HB Saanin alias indaruang belok kiri. Kalau di jakarta biasanya orang-orang kalo ngomong “bawa ke grogol” maksudnya ke RSJ maka di padang pun gitu. “Baoklah ka gaduik/ baoklah ka indaruang belok kiri” maka yang dimaksudnya ya ke RSJ. Ayah pengen silaturahmi lebaran ke rumah temennya. Maka dari sana kami mampir ke rumah om agus. Lama banget di sini, sampai sore. Akhirnya setelah dari sana kami sampai di rumah dengan selamat. Dengan demikin jalan-jalan pun selesai🙂

Seru sekali libur lebaran tahun ini. Bisa berkunjung ke beberapa tempat bersama keluarga🙂


Tinggalkan komentar

Bikin Brownies Yuk

Yang pakai facebook, pasti di TLnya wara-wiri aneka resep kan ya. Nah biasanya resep-resep yang menarik mata saya kumpulin semua. Tapi satupun belum ada yang dibikin😀 . Akhirnya beberapa hari yang lalu, kesampaian juga untuk membuat suatu resep. Yaitu brownies teflon. Bahannya gampang didapat dan sepertinya gampang sekali membuatnya.

Bahan :

  • Telur ayam 3 butir
  • Gula 6 sdm
  • Terigu 6 sdm
  • Minyak makan 6 sdm
  • Milo sachet 18 gr 4 bungkus
  • Mises secukupnya
  • Mentega/margarin secukupnya untuk olesan teflon

Cara membuat :

  • Kocok telur dan gula menggunakan garpu atau ballon whisk (saya pakai ballon whisk). Tujuannya hanya agar gulanya larut saja. Jadi tidak perlu menggunakan mixer
  • Setelah gula larut, masukkan terigu, milo, dan gula. Aduk sampai adonan tercampur rata. Habis itu tuang ke dalam teflon yang sudah diolesi margarin/mentega. Masak menggunakan api kecil. Apa ya namanya itu, dudukan tempat kuali/pan/panci di kompor gas itu ditambahin jadi ada dua gitu. Supaya nanti browniesnya gak cepet gosong
  • Pas menjelang browniesnya hampir matang. Bagian atas masih basah, masukkan mises
  • Setelah permukaan kering tinggal diangkat browniesnya

Resep aslinya begitu, tapi kata yang bikin karena dia gak ada teflon yang kecil, dia pakai Happycall. Jadi semua resep di atas dikali 2. Terus dia tambahin baking powder 1 sdt sama baking soda juga 1 sdt, biar ngembang katanya. Gak pakai baking powder/baking soda pun gak apa-apa karena brownieskan memang kue bantet hehehe. Nah kalau saya, karena mau ikutan pake happycall (hakashima double pan) juga makanya resep pun ikut dikali dua. Tambahin baking soda dikit. Kata mama kalau baking powder sama baking soda ditambahin sebanyak itu yang ada nanti kuenya jadi pahit << bener gak?

Jadilah malam-malam saya bikin si brownies. Pas browniesnya masih setengah matang saya taburi mises di permukaannya sebanyak-banyaknya. Biar maknyus, saya pecinta coklat:mrgreen: . Dan setelah akhirnya matang dicobain deh. Ternyata teksturnya gak ada mirip-miripnya sama brownies. Lebih mirip bolu, tapi dengan tekstur yang lebih keras, gimana ya jelasinnya. Gak selembut bolu gitu. Terasa agak pahit, mungkin bener kata si mama, efek ditambahin baking soda. Emang sih browniesnya jadi lebih ngembang hehehehe. Apa karena ditambahin baking soda jadi ngefek ke teksturnya juga ya?

Setelah disantap, lumayan laris :D . Maaf gambarnya burem hehehe

Setelah disantap, lumayan laris😀 . Maaf gambarnya burem hehehe

Lumayan enak rasanya, tapi ya itu teksturnya agak keras. Bikin capek ngunyahnya😀 . Lumayan gede juga nih modalnya. Yang bikin modalnya gede itu si milo. Musti pakai 8 sachet hehehe


14 Komentar

Round Cosmetic Bag

Pelajaran kedua yang diberikan mbak Anna adalah membuat round cosmetic bag. Alias belajar membuat sesuatu yang bulat😀 . Kali ini saya menggunakan kain kanvas linen yang saya beli di om Manu Ratu Busana. Kalau tinggal di Jakarta mah gampang ke sana hehehe. Lokasi tokonya di Pasar Baru. Untungnya om Manu ini melayani penjualan online juga. Kemarin ini ada sale kain kanvas linen. Per 2 meter cuma Rp.120.000,- free ongkir. Saya beli deh sepotong hehehe. Kainnya bagus, halus. Dibilang kanvas bukan (soalnya jauh banget dari tekstur kanvas) . Lebih mirip linen tapi halus banget. Untuk inner saya pakai kain belacu aja. Jomplang banget ya, untuk luaran pakai kain impor, dalamannya cuma belacu aja😀 . Tapi ya stok kain yang saya punya terbatas. Jadi harus bisa memanfaatkan kain yang ada di rumah (daripada belanja melulu ya kan). Polanya sudah dibikin dari minggu kemarin. Sudah dijiplak ke stapleknya eh ternyata stapleknya kurang, harus dibeli lagi. Terus harus beli kepala resleting. Soalnya kalau beli semeter dapat kepalanya cuma 1. Padahal resleting 1 meter itu bisa dipakai untuk beberapa proyek lo. Jadi deh saya beli sebungkus isi 100 harganya Rp.20.000,- . Terus sekalian beli jarum pentul yang bagus, yang tajam,  << ini penting. Karena kalau pakai yang kualitas jelek, menguji iman dan kesabaran banget buat mentulin kainnya. Kan kalau tumpul jadi susah tusukin jarum ke kainnya. Mana yang mau dipentulin banyak, kan ujung-ujungnya jadi pengen nyemilin jarum pentulnya #eh. Saya tanya ke yang jual, saya mau beli jarum pentul yang bagus. Ditanya sama penjualnya, mau berapa banyak. Saya ngak ngeh, saya jawab aja paling sedikit musti beli berapa. Katanya Rp.10.000,- . Ya udah deh saya bilang beli Rp.10.000,- aja. Dan ternyata itu jarum pentul ditimbangin dulu. Jadi kayaknya belinya pergram gitu. Harga emang gak bohong lah. Jarum pentulnya mantap banget. Super tajam, kalau gak sengaja ketusuk beuh lumayan sakitnya. Kalau jarum pentul yang seribuan itu rata-rata isinya tumpul. Yang tajam cuma beberapa aja. Eh kok jadi ngelantur ya😀 . Lanjut bahas tasnya aja deh ya😀

Akhirnya semua perlengkapan tempurnya sudah tersedia kan. Saatnya menyeterika staplek ke kainnya. Hari jumat malam saya setrika. Ada insiden salah setrika pula. Saya keseterika bagian staplek yang ada lemnya. Otomatis lemnya nempel di setrika dong. Waduh T.T , musti matiin setrika dulu. Kata mama musti digosokin ke daun pisang. Malam-malam, hujan, daun pisang mau diambil ke mana coba. Saya matiin, tunggu dingin. Habis itu dikikis pake kuku, dan bisa. Akhirnya proses gosok-menggosok staplek selesai malam itu juga. Besok pulang kerja, saya bisa langsung gas menjahit.  Begitu kira-kira angan saya. Tapi besoknya abis pulang kerja, lepas maghribnya musti nemenin mama pula. Baru setelahnya saya bisa menjahit. Awalnya saya belum niat menjahit si round bag ini. Maunya bikin dompet dampit lagi. Saya coba pakai kain flanel sebagai pelapis, tapi ternyata susah. Tidak segampang menggunakan busa angin. Nyerah deh saya, akhirnya saya kerjakan si round bag. Masalah utama masih kerapian. Kalo dilepasin dikit, dia mencong deh. Gak rapi, kadang saya dedel, kadang saya biarin aja #penjahitpemalas😆 . Ternyata membuat si round bag ini tu seru sekali. Di beberapa part kadang bingung liat fotonya. Tapi setelah diperhatikan lagi baru deh paham. Oh ini musti begini, oh ini musti diginiin . Nah urusan badan tas sudah beres. Saatnya disatukan dengan alasnya yang bulat. Oh ternyata menyatukan badan dengan alas itu tidak gampang. Berkali kali pentulnya saya lepasin karena kadang alasnya kedodoran. Atau kadang badannya kedodoran. Kan gak bisa begitu. Harus pas alas dan badan supaya hasilnya bagus. Dan akhirnya alas dan badannya berhasil disatukan😀 . Gak kedodoran lagi😀 . Tapi kebahagian tersebut tidak berlangsung lama. Badannya kebalik ternyata😥

Harusnya bagian bagus si badan ada di dalam. Ini mesti gara-gara setelah badannya jadi saya kagumi dulu deh hahaha. Kebetulan waktu sudah lewat jam 12 malam. Sepertinya saya sudah lelah, jadi sudah tidak fokus lagi. Jadinya saya tidur deh. Besok pagi saja disambungnya. Dan paginya setelah kembali mengalami insiden kedodoran, akhirnya alas dan badan berhasil disatukan dan kali ini gak pake acara kebalik lagi😀

Oya hukumnya wajib bagian alas dicekris-cekris kampuhnya. Supaya nanti kainnya gak narik waktu dijahit yang mengakibatkan hasil jahitan mengerut nantinya. Setelah ini berarti proses outer selesai. Saatnya menjahit inner dengan menggunakan teknik krukupan (selimut)

Bener-bener berat perjuangan buat menjahitnya. Tebal, trus bagian yang diselimutin si alas didalamnya juga tebal luar biasa. Awalnya pakai fabris klip itu. Cuma susah karena kainnya bergeser terus. Jadilah saya jelujur, biar kainnya gak lari-lari. Lumayan membantu walaupun tetep susah. Akhirnya setelah beres menjahit alasnya, kita harus balik kainnya. Pas membalik bagian alas sih gak terlalu susah. Tapi pas bagian alasnya kok jadi keras dan tebal ya. Mungkin karena bagian atasnya sendiri udah ditambah kain sellembar lagi makanya jadi berat

Proses lahiran. Yang pertama gampang. Yang kedua kali susah banget. Keras banget. Alhasil kainnya jadi lecek

Proses lahiran. Yang pertama gampang. Yang kedua kali susah banget. Keras banget. Alhasil kainnya jadi lecek

Sampai saya pakai tang buat narik. Tetap susah lo, tarik terus sampai jari sakit. Akhirnya beres juga. Setelahnya lunang pembalikannya tinggal ditutup pakai blind stitch. Ini musti jahit tangan. Kalau pakai teknik biasa bisa dijahit pakai mesin. Kalau ini gak bisa, harus jahit tangan

Dan akhirnya jadi juga deh round cosmetic bag saya

:D

😀

Seneng sekali, lumayan rapi juga jadinya. Walaupun kainnya jadi kucel, efek ditarik-tarik pas proses lahiran tadi. Berikut detailnya

Jahitannya masih mencong-mencong walaupun si tasnya sendiri keliatannya oke-oke saja. Next mau bikin zetaya pouchnya mbak ummi😀


6 Komentar

Balada Pelanggan Kedai Lontong

Dari kecil saya sudah dibiasakan mama saya untuk sarapan. Jadi kalau pergi ke tempat kerja tanpa sarapan sebelumnya di rumah itu tidak pernah saya lakukan. Kalau tidak ada lauk teman makan nasi biasanya saya akan membeli lontong/ketupat. Di dekat rumah ada tukang ketupat langganan. Hanya beberapa bulan sebelum bulan puasa kemarin cita rasa kuah kacang (biasanya saya beli ketupat pical) berubah drastis. Mama saya tidak mau lagi membeli di sana. Karena di tempat yang lumayan dekat dari si tukang ketupat tadi ada tukang lontong baru yang jualan. Si mama pindah haluan, dan membeli di sana. Si tukang ketupat ini sekitar sebulan sebelum puasa berhenti jualan karena kakinya sakit. Otomatis kami leluasa beli lontong ke kedai baru ini. Rasanya enak, kata mama dan tetangga kami kencurnya terasa pada kuah kacangnya. Kalau di tukang ketupat langganan mungkin memang tidak memasukkan kencur ke dalam kuah kacangnya. Si tukang lontong baru ini sudah berjualan sebelum si tukang ketupat berhenti jualan karena kakinya sakit. Dengar kabar dari tetangga, si tukang ketupat mengeluh karena pelanggannya pindah ke tukang lontong tadi.

Kalau di awak, urang maambiak karupuak banyak awak padiaan se nyo
Kalau di tempat saya, orang mau mengambil kerupuk (merah) banyak saya biarin aja < < kira-kira seperti ini curhatan si tukang ketupat ke tetangga saya. Yang maksudnya dia bertanya-tanya, kok pelanggannya bisa pindah padahal kalau beli ketupat di sana minta kerupuk banyak dikasih. Terus tetangga saya jawab begini “Cubo lo rasoan baa lontong urang tu“. Maksudnya tetangga saya coba diicip lontongnya si “pesaing” ini, jadi kita bisa tahu kenapa orang-orang pada pindah ke tukang lontong yang baru tersebut. Orang-orang pindah terutama ya karena rasa. Kalau rasa sudah tidak cocok lagi di lidah pasti orang tidak mau lagi membeli di sana bukan. Setelah si tukang ketupat curhat, tak lama setelahnya dia tidak jualan lagi karena kakinya sakit. Selama bulan puasa sore-sore juga tidak menjual pical. Baru pada tanggal 18 juli kalau tidak salah si tukang ketupat mulai berjualan kembali. Kalau tidak salah saya membeli di sana sehari setelahnya. Rasa kuah kacangnya sudah kembali seperti sebelumnya. Jadi langganan yang pergi sepertinya akan kembali lagi. Saya beli di sana karena kebetulan si tukang lontong tidak buka, anaknya masuk TK. Jadilah saya akhirnya membeli ketupat di langganan saya yang lama

Sekarang pagi kalau saya mau beli lontong, saya intip dulu dari kejauhan si tukang lontong buka apa tidak. Kalau buka maka saya langsung bergegas ambil jalan memutar. Soalnya dari rumah saya jalan lurus, ketemu tukang ketupat. Habis itu jalan lagi sebentar sampai di kedai tukang lontong. Kalau saya ambil jalan lurus, bakal kelihatan oleh tukang ketupat saya membeli di tempat lain. Jadi saya ambil jalan memutar jauh ke belakang untuk menjaga perasaan si tukang ketupat. Sampai segitunya saya menjaga perasaan orang lain. Padahal yang bersangkutan belum tentu berlaku sebaliknya.

Tadi pagi saya mau beli lontong, tapi sayang si tukang lontong tidak jualan. Akhirnya saya beli di kedai tukang ketupat kan. Menenteng-nenteng piring ke sana. Setelah saya datang ada anak laki-laki berseragam sma yang datang bawa piring juga. Berarti kan saya yang duluan datang ya<< ini harus diperjelas, saya lebih dulu datang dari si anak laki-laki tadi. Setelah si tukang ketupat selesai mengambilkan pesanan orang lain diambillah piring saya, terus nanya. “Nio apo ko Ji?” Mau apa ni Ji? yang notabene pertanyaannya ditujukan ke anak laki-laki tadi, bukan ke saya. Soalnya nama saya kan Mayang😀 , si tukang ketupat juga tau nama saya kok. Jadi mungkin maksudnya dia mau ambil piringnya si “Ji” ini eh yang keambil malah piring saya. Habis piring saya di isi saya juga mau beli sebungkus lagi, sudah saya bilang loh pesanan saya. Eh malah piring si “Ji” tadi yang diambil. Pesanan saya yang kedua dicuekin, waduh waduh. Setelah piring si Ji di isi, dia juga pesan sebungkus lagi seperti saya. Diambilin langsung, tambah keki nih saya. Kan saya yang datang duluan -_-. Terus si Ji kasih uang Rp.50.000,- si tukang ketupatnya diam saja. Padahal kalau saya kasih uang Rp.50.000,- pasti ditolak. Langsung bilang “ndeh gadang bana pitihnyo, ndak ado baliaknyo do“(Duh besar sekali uangnya, gak ada kembaliannya). Dari rumah padahal saya dan mama setengah mati cari uang kecil karena si mama cuma punya uang pecahan Rp.100.000,- buat beli ketupat. Soalnya kami sudah tahu, kalau kasih duit besar pasti ditolak. Jadi sebelum pergi ke sana, mengais sana sini berharap ada uang kecil yang terselip. Dapat uang kecil pergi ke sana, eh ternyata perlakuannya seperti itu.

Pagi-pagi saya sudah dibikin kesal nih sama si tukang ketupat. Yang datang duluan tidak diprioritaskan. Okelah dia anak sma mau sekolah misalnya. Tapi ya bilanglah baik-baik seperti ini misalnya “tunggu santa yo, ambiak’an adiak ko dulu yo, nyo ka sakolah” (tunggu sebentar ya, diambilin untuk si adek ini dulu ya, soalnya dia mau sekolah). Seperti ini kan saya juga maklum (padahal saya juga mau ke kantor makanya pergi ke sana pagi-pagi sekali). Padahal kan saya datang duluan, dia pasti juga lihat saya datang. Kok saya jadi seperti tidak dianggap. Sedih, saya padahal menjaga perasaan dia. Eh si tukang ketupatnya begitu. Dongkol, besok kalau mau beli lontong tempat si tukang lontong jalan lurus saja deh.

Jadi saya bandingkan si tukang lontong dengan tukang ketupat. Tukang lontong itu pakai lontong ayak. Lontong ayak itu nasi lunak semi bubur yang didinginkan, kan jadi padat. Nah itu disebutnya lontong ayak oleh orang minang. Kalau si tukang ketupat sudah pasti pakai ketupat. Makanya dari awal saya bilangnya satu tukang ketupat, satu tukang lontong. Yang kedua si tukang lontong sanduak’annyo semua Rp.5000,- . Kalau si tukang ketupat sanduak’an ketupat sayurnya 6ribu, ketupat picalnya 7ribu. Lebih mahal ya sanduak’an si tukang ketupat. Tapi isinya juga lebih banyak si tukang ketupat kok. Soal rasa, saya suka gulai cubadak (gulai nangka muda) si tukang lontong. Kalau gulai cubadak si tukang ketupat saya harus minta kuah kacang banyak-banyak, supaya rasanya jadi enak. Kalau cuma gulai cubadak tok, saya tidak suka, rasanya lain, tidak cocok di lidah saya. Kalau soal pelayanan nah ini ni pertimbangan nomor 1. Si tukang lontong ni ramah banget. Kalau ada amak-amak datang minta lontong buat dimakan di sana penjualnya bilang begini “Duduaklah amak lu, tunggu santa yo mak, awak bungkuihan ko ciek dulu” . Silahkan duduk mak, tunggu sebentar ya mak, saya bungkusin yang ini dulu. Seandainya si tukang ketupat kayak begini juga ke saya #ngarep. Kalau saya kasih uang besar buat bayar, tidak pakai acara ditolak. Kapan perlu dia masuk ke rumahnya, cari uang kembalian. Sayang beribu sayang, si tukang lontong ini kalau jualan co ayam batalue, sahari batalue sahari indak. Suka absen jualannya. Kalau si tukang ketupat jualan terus tiap hari.

Kalau si tukang ketupat, suka kurang ramah kepada pelanggan. Contoh menolak uang besar, terus kadang suka tidak menyahut saat dipanggil pelanggannya. Kita bilang terima kasih tidak dibalas. Kalau sama tukang lontong, kita sama-sama mengucapkan terima kasih😀 . Kita bareng-bareng bilang terima kasihnya😀. Padahal sepele, tapi yang seperti ini yang membuat pelanggan betah belanja di tempat kita. Orang minang bilang “Kalau manggaleh, lunak gigi pado lidah“, yang artinya Kalau berjualan, lebih lunak gigi daripada lidah. Segitunya orang jualan sampai gigi pun dibikin lunak untuk menyenangkan hati pelanggan.

Saya kecewa, kalau tidak kepepet tidak mau beli lagi di sana. Mungkin saya lebay, tapi coba deh ada di posisi saya. Anda dihadapkan pada dua kedai, yang satu pelayanan ramah, yang satu pelayanan muka masam. Anda akan memilih yang mana?


2 Komentar

Sewing Time : Gusset Pouch & Dompet Dampit

Saya kan sudah ikut kursus online di mbak umi dan mbak anna. Di mbak umi belajar membuat dompet dampit. Sama mbak anna belajar membuat gusset pouch. Sabtu malam akhirnya saya eksekusi dompet dampitnya mbak umi. Setelah sebelumnya ke pasar dulu cari resleting uk 5. Ada 6 video yang dishare mbak umi. Yang saya kurang paham itu di bagian akhir video 5 dan video 6. Setelah nonton berulang kali akhirnya baru ngeh. “Ooh ini mesti dibeginiin to” hehehe. Karena pakai busa angin jadi ada drama-drama juga. Awalnya langsung jahit outer sama busa anginnya gitu aja. Ternyata fatal akibatnya. Melar sana-sini. Jadi jelek banget hasilnya. Dedel, habis itu kain dan busa angin dijepit dulu pakai fabric clip. Baru dijahit, dan hasilnya jauh lebih baik. Tipsnya, lebihkan ukuran busa angin dari ukuran outer. Ntar kelebihan busa anginnya bisa dipotong kalau sudah selesai dijahit.

Akhirnya menjelang tengah malam selesai juga ini dompet. Cuma pas jadi kok hasilnya jadi memanjang begini ya. Kayaknya saya salah catat ukurannya deh😆 . Pas saya kasih liat ke mama dan ayah keesokan harinya, eh diketawain. Dibilangin ini tu kampieh (tas tempat menyimpan daun sirih). Ya iyalah bentuknya memanjang gitu, gak ada mirip-miripnya sama dompet.

Minggu siang saya kerjainlah gusset dompetnya mbak anna. Karena sebelumnya merasa sudah bisa menjahit busa angin, maka dengan pedenya nambahin busa angin untuk si guseet pouch ini. Padahal sama mbak anna gak disuruh pakai pelapis apapun. Dan ternyata pas dibikin itu busa anginya menyusahkan sekali ><. Perjuangan banget deh menjahitnya, dari yang jarum mesinnya cuma jalan ditempat alias sepatu gak bisa jalan karena terhalang  busa angin yang terlalu tebal. Innernya tidak ikut terjahit. Kalau gak terjahit terpaksa ulang jahit, kalau enggak kan jadinya nanti bolong. Untuk si gusset pouch ini pakai teknik krukupan (selimut). Pakai teknik membalik juga, hanya saja inner dan outer nantinya jadi menyatu. innernya jadi gak kedodoran gitu. Awalnya dulu ps mbak anna pernah share cara teknik selimut ini di grup. Saya masih belum paham waktu itu. Sekarang saya sudah mengerti dan ternyata gampang dan mengasyikkan sekali teknik selimut ini😀

Jelek banget jadinya, gak rapi. Berkerut di sana sini. Tapi tetap senang karena berhasil menjahit sesuatu yang baru😀 . Ini pouch cocok juga sepertinya dipakai sebagai cosmetic pouch😀

Oiya sedikit tips dari saya. Kalau merasa belum akan rapi  menjahit seperti saya, maka untuk menjahit gunakan saja bahan yang murah meriah seperti saya😀 . Untuk dua proyek di atas saya menggunakan katun sprei untuk outernya. Murah lo, semeter cuma Rp.28.000,-. Lebarnya kira-kira 240cm. Sayang kalau langsung pakai bahan bagus  hahaha. Untuk innernya untung saya dapet doorprize kain. Jadi kainnya bisa digunakan untuk proyek ini. Trus tinggal beli resleting. Semeter cuma dua ribu lima ratus hehehe. Kalau gak pakai pelapis juga gak apa apa sih. Cuma jadinya hasil jahitan kita melambai gitu. Gak bisa kokoh gitu hehehe

Sekian dulu cerita menjahit saya kali ini. Next mau bikin zetaya pouchnya mbak umi. Happy Sewing🙂

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 97 pengikut lainnya