mayangkoto

my story, my life

The Golden Road – Hari-hari Bahagia by L.M. Montgomery

1 Komentar

Aku membeli buku ini di bazar buku murah yang digelar Gramedia. Hanya seharga Rp.10.000,- sangat murah. Aslinya harga buku ini adalah Rp.40.000,-
Selain buku ini aku membeli 2 buku lagi, The Clock karangan Agatha Christie dan Kisah-kisah Beedle si Juru Cerita karangan J.K. Rowling, tentu seharga @ Rp.10.000,- juga. Kedua buku itu, mungkin akan kubuat reviewnya lain waktu, sekarang kita akan membahas The Golden Road dulu…

untitled

Buku ini merupakan kelanjutan dari buku sebelumnya yaitu The Story Girl, sayang aku belum punya seri pertamanya 😦 . Karena kita tidak membaca seri pertamanya, maka ketika membaca The Golden Road untuk pertama kali kita akan dilanda kebingungan dengan penokohannya. Sang pengarang tidak mau repot-repot menjabarkan lagi tokoh-tokoh yang ada satu persatu. Namun pada akhirnya ketika selesai membaca buku ini, kita akan dapat mengetahui tokoh-tokoh didalamnya.

Buku ini bercerita tentang anak-anak saudara sepupu keluarga King beserta teman-teman mereka dalam menghabiskan setahun masa kecil mereka di Prince Edward Island Kanada. Narator atau pencerita dalam buku ini adalah Beverley King, jadi cerita dalam buku ini disampaikan melalui sudut pandang Beverley. Tokoh-tokoh utama dalam kisah ini antara lain Bev sang narator, Sara Stanley, Felicity King, Cecily King, Dan King, Felix King, Sara Ray, dan Peter (aku lupa nama keluarganya). Jadi Bev dan Felix itu saudara kandung, kemudian Felicity, Cecily, dan Dan, sepertinya juga saudara kandung, Sara stanley ini sepupu mereka, sedangkan Sara Ray dan Peter merupakan sahabat mereka

Cerita dibuka tentang bagaimana mereka akan menghabiskan musim dingin, dengan ide dari Sara Stanley yang dikenal juga sebagai Gadis Pendongeng untuk menerbitkan sebuah majalah. Majalah ini kemudian diberi nama majalah KITA. Berbagai kejadian yang terjadi disekitar mereka akan mereka tuliskan pada majalah ini

Pertama membaca buku ini mungkin kita merasa bosan. Aku juga merasakan hal yang sama. Biasanya aku tergolong “makhluk” yang cepat menyelesaikan suatu bacaan. Tapi ketika membaca buku ini, entah mengapa di awal aku merasa ceritanya kurang menarik. Bayangkan, kadang baru saja membaca beberapa kalimat aku langsung menutup buku ini saking bosannya menurutku kisah dalam buku ini. Tapi aku menguatkan diri untuk menyelesaikan membaca buku ini. Benar saja ternyata di pertengahan ceritanya menjadi menarik, sedih, dan menyentuh

Buku ini mengisahkan cerita mereka tentang menghabiskan natal, membuat resolusi di malam tahun baru, kemudian mereka berusaha menepati resolusi tersebut. Tapi pada akhirnya masing-masing menyerah pada resolusi mereka sendiri, karena menurut mereka resolusi tersebut sulit dicapai. Buku ini juga menceritakan bagaimana mereka terjebak di badai salju, karena terjebak mereka tidak bisa kembali ke rumah dan akhirnya menginap di rumah Peg si penyihir

Buku ini tidak hanya mengisahkan kisah-kisah riang dan jenaka. Tetapi juga kisah-kisah sedih. Seperti matinya kucing milik Sara Stanley serta perpisahan yang mengakhiri cerita ini. Sara Stanley akan dijemput ayahnya untuk kemudian tinggal di Paris. Sedangkan Bev dan Felix juga akan dijemput ayah mereka untuk kemudian kembali ke Toronto. Begitulah sejak perpisahan tersebut, kelompok kecil mereka tidak pernah bersatu kembali. Di akhir kisah si Gadis Pendongeng memberikan ramalan-ramalan untuk masing-masing anak. Anehnya dia menolak untuk meramal Cecily. Menurut pandangan Bev sepertinya Sara Stanley tahu tidak akan ada masa depan untuk Cecily 😦 . Peg si penyihir juga meramalkan hal yang sama. Walau bagaimanapun, kita tidak akan mengetahui nasib Cecily, dan teman-temannya ke depan karena ceritanya berakhir pada buku ini.

Perpisahan adalah peristiwa menyakitkan dan menyedihkan. Karena itulah ketika akhirnya si Gadis Pendongeng meninggalkan Pulau Prince Edward dia tidak ingin teman-temannya mengucapkan kalimat perpisahan. Peristiwa perpisahan dalam buku ini sangat sedih, sehingga akhirnya aku meneteskan air mata ketika membacanya

Iklan

Penulis: mayang koto

Crafter and gardener

One thought on “The Golden Road – Hari-hari Bahagia by L.M. Montgomery

  1. Ping-balik: Bunga-bunga yang Ingin Sekali Saya Tanam | mayangkoto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s