mayangkoto

my story, my life


4 Komentar

Mabel Bag from Swoonpatterns.com

Maju mundur mau bikin ini, akhirnya dibikin juga. Ceritanya saya ada janji mau ngasih temen tas bikinan saya sendiri. Baca lebih lanjut

Iklan


10 Komentar

Tutorial Dompet Rits dengan Bias Tape oleh Mbak Tita Ningsih

Saya pengen bikin accordion wallet tapi gak mau pake bikin yang versi lahiran. Capeknya luar biasa, soalnya tebal banget. Nah suatu kali di craftalova fabric club, ada seorang member yang memposting karyanya. bikin dompet rits tapi gak pake sistem lahiran, tapi sistem bisban. Baca lebih lanjut


22 Komentar

Another Hobobag

Hari minggu saya manfaatkan untuk menyelesaikan sebuah tas. Gak tau namanya apa, soalnya pakai bahasa mandarin sih. Tapi dari modelnya sepertinya sih ini hobobag juga. Pola dan tutorial saya lihat dari buku ini. Ini termasuk tas yang gampang dibuat bahkan oleh pemula. Kesulitannya saya rasa cuma di pemasangan bisban saja. Kalau saya, karena ini kali pertama pasang bisban jadi ya masih belum rapi hasilnya hehehe. Tapi tetap kecelah hasilnya πŸ˜€

14581579_1154007938015560_1613592406615877458_n

Cakep gak? hehehe. Outernya pakai katun sprei, inner katun juga, tapi tidak tahu jenisnya apa. Bisbannya dari katun polkadot. Tidak pakai resleting, hanya pakai kancing magnet. Maafin ya, saya lupa foto dalamnya seperti apa. Di dalamnya ada kantong berkaret di satu sisi badan tas, dan di sisi-sisi gussetnya ada kantong kecil di kiri dan kanannya. Sudah mirip seperti aslinya belum :

13532824_1070577353025286_4825254332699470434_n

Itu, yang di sebelah kanannya πŸ˜€ . Aslinya untuk outer itu pakai 2 warna/motif kain. Tapi saya malas, soalnya harus cari kombinasi motif dan warna yang pas, itu bikin pusing. Kalau bikin tas sih sesuai kreasi kita aja. Gak perlu terlalu ikutin model aslinya seperti apa. Kadang alat dan bahan yang kita miliki terbatas, jadi kita ya musti kreatif memanfaatkan apa yang ada πŸ™‚

 


2 Komentar

Weekender Bag

Weekender bag saya akhirnya selesai, tapi saya betul betul tidak puas dengan hasilnya 😦 . Jahitannya loncat, dan setumpuk kesalahan menjahit lainnya. Ini selesai untuk sekedar setor ke penyelenggara kursusnya saja. Dalam hati mah tidak puas sama sekali.

14522823_1141654692584218_6608010555402600017_n

Awalnya semangat banget untuk mengerjakan proyek yang satu ini. Karena weekender bagnya terdiri dari 2 kompartemen. Saya pikir saya bisa bawa ini ke kantor, yang kompartemen atas untuk menyimpan dompet, payung, dll. Yang kompartemen bawah untuk tempat menyimpan kotak makan siang. Angan-angan saya sudah setinggi langit πŸ˜€ . Tapi setelah proses pengerjaan saya jadi stres sendiri. Apalagi sampai sekarang saya belum menemukan teknik yang paling nyaman dan pas untuk menjahit gusset dengan alas yang berbentuk kotak. Kalau lingkaran lebih gampang karena tidak ada sudut. Kalau persegi kan ada sudut-sudut. kadang tidak ngepas antara alas dengan gusset. Jadilah pas dijahit kainnya jadi kecekit. Terus juga jahitannya loncat, pas saya lakukan proses pembalikan tasnya jadi bolong πŸ˜₯ . Itu pas difoto resleting atasnya copot, soalnya jahitan di pangkal dan awal resleting lepas. Mengakibatkan tas bolong πŸ˜₯ . Betul-betul tidak puas, gagal pokoknya. Tapi kalau tidak pernah gagal, kita gak akan pernah belajar kan. Dengan adanya masalah-masalah dalam menjahit yang saya hadapi, saya jadi termotivasi untuk mencari tahu di mana letak kesalahan saya. Akhirnya saya sudah menemukan solusi untuk benang yang loncat. Tinggal cara untuk menyatukan gusset dan alas saja. Ada caranya di buku yang saya beli, cuma pas dipraktekkan kok tetap tidak pas. Padahal pola sudah dipotong dengan presisi, saya masih bingung salahnya dimana. Mungkin mesti meluangkan banyak waktu untuk latihan menjahit. Saat ini saya belum bisa deh hahaha. Ada waktu ya langsung geber untuk mengerjakan proyek. Padahal practice makes perfect kan. Udah angan-angan sih saya, pakai kain perca ingin latihan teknik ini, teknik itu, tapi sampai sekarang belum kepegang πŸ˜€ . Waktunya belum ada (alasan) πŸ˜€

Balik ke weekender bag, pengen buat ulang. Semoga bisa dikerjakan dalam waktu dekat.


Tinggalkan komentar

Simple Backpack

Yeay, saya akhirnya berhasil menyelesaikan proyek terakhir dari mbak Anna yaitu membuat backpack. Kursus onlineya sendiri untuk membuat 4 proyek, keempatnya berhasil saya selesaikan. Dan saya paling puas dengan backpack ini πŸ˜€ . Lebih rapi, karena sudah lebih mengetahui tekniknya. Menjahitnya sudah lebih lancar, seingat saya gak pake acara dedel mendedel πŸ˜€ . Mungkin salah satu sebabnya karena backpacknya saya bikin tanpa pelapis kali ya. Soalnya kalau pakai pelapis itu bikin stres lo πŸ˜€

14470425_1141655142584173_5888394066369881910_n

Itu dia penampakan backpack saya, saya berhasil selesaikan hari minggu malam. Bahan outernya kain baby kanvas impor. Bahan kanvas tapi lebih tipis dan lemas, bagus deh bahannya. Untuk innernya saya pakai kain belacu + katun jepang. Ceritanya kehabisan belacu, tapi malas beli ke pasar. Akhirnya memanfaatkan kain yang ada saja πŸ˜€ . Tidak pakai pelapis, karena ingin backpacknya terlihat “gemulai” sekaligus merasa belum siap kalau harus menghadapi pelapis lagi πŸ˜€

Berikut detail penampakan tasnya :

Yang jadi kekhawatiran saya adalah saat pembuatan tas sebelumnya, mesin jahit saya kok tidak kuat jahit bahan tebal. Padahal si janome ini terkenal karena kekuatannya jahit bahan tebal. Di saya kok tidak seperti itu. Kalau jahit bahan tebal, walaupun si tombol penambahan tekanan sepatu sudah ditekan tapi tetap saja jahitannya loncat. Ilustrasinya seperti ini : _._._._._.__________._._._. Ibaratkan garis pendek itu jahitan normalnya dan si titik-titik itu tanda pertemuan benang atas dan bawah saling mengunci. Kalau ketemu kain yang tebal sekali, jahitannya akan jadi panjang seperti itu 😦 . Benang bawah dan atas tidak mengunci, otomatis tidak terjahit deh. Ini bahaya, soalnya bikin tas bolong, masa’ saya harus jahit manual kan bahannya tebal 😦 . Baru beberapa hari yang lalu saya tahu, kalau itu adalah masalah pengaturan tensi. Kalau jahit bahan tebal, tensinya harus dilonggarkan begitu hehehe. Baru ngeh saya, soalnya pada pembuatan proyek-proyek sebelumnya saya tidak pernah mengatur tensinya, selalu dengan tensi yang sama untuk semua jenis kain. Padahal beda kain dan beda ketebalan, tensinya juga beda. Nambah pengetahuan baru nih πŸ˜€

Jadilah untuk si backpack ini saya terapkan ilmu tentang pertensian ini, dan alhamdulillah berhasil πŸ˜€ . Untuk jahit webbing (tali tas)Β  yang super tebal itu, dijahit rangkap 3 pun oke saja. Jahitannya “ngunci” antara benang atas dan bawah, alhamdulillah πŸ˜€ .

Lega kelas online dengan mbak Anna sudah selesai. PR saya selesai semua, strenya juga hilang separo hahaha. Akhirnya saya bisa mulai mengristik kembali ^.^


3 Komentar

Sewing Time : Gusset Pouch & Dompet Dampit

Saya kan sudah ikut kursus online di mbak umi dan mbak anna. Di mbak umi belajar membuat dompet dampit. Sama mbak anna belajar membuat gusset pouch. Sabtu malam akhirnya saya eksekusi dompet dampitnya mbak umi. Setelah sebelumnya ke pasar dulu cari resleting uk 5. Ada 6 video yang dishare mbak umi. Yang saya kurang paham itu di bagian akhir video 5 dan video 6. Setelah nonton berulang kali akhirnya baru ngeh. “Ooh ini mesti dibeginiin to” hehehe. Karena pakai busa angin jadi ada drama-drama juga. Awalnya langsung jahit outer sama busa anginnya gitu aja. Ternyata fatal akibatnya. Melar sana-sini. Jadi jelek banget hasilnya. Dedel, habis itu kain dan busa angin dijepit dulu pakai fabric clip. Baru dijahit, dan hasilnya jauh lebih baik. Tipsnya, lebihkan ukuran busa angin dari ukuran outer. Ntar kelebihan busa anginnya bisa dipotong kalau sudah selesai dijahit.

Akhirnya menjelang tengah malam selesai juga ini dompet. Cuma pas jadi kok hasilnya jadi memanjang begini ya. Kayaknya saya salah catat ukurannya deh πŸ˜† . Pas saya kasih liat ke mama dan ayah keesokan harinya, eh diketawain. Dibilangin ini tu kampieh (tas tempat menyimpan daun sirih). Ya iyalah bentuknya memanjang gitu, gak ada mirip-miripnya sama dompet.

Minggu siang saya kerjainlah gusset dompetnya mbak anna. Karena sebelumnya merasa sudah bisa menjahit busa angin, maka dengan pedenya nambahin busa angin untuk si guseet pouch ini. Padahal sama mbak anna gak disuruh pakai pelapis apapun. Dan ternyata pas dibikin itu busa anginya menyusahkan sekali ><. Perjuangan banget deh menjahitnya, dari yang jarum mesinnya cuma jalan ditempat alias sepatu gak bisa jalan karena terhalangΒ  busa angin yang terlalu tebal. Innernya tidak ikut terjahit. Kalau gak terjahit terpaksa ulang jahit, kalau enggak kan jadinya nanti bolong. Untuk si gusset pouch ini pakai teknik krukupan (selimut). Pakai teknik membalik juga, hanya saja inner dan outer nantinya jadi menyatu. innernya jadi gak kedodoran gitu. Awalnya dulu ps mbak anna pernah share cara teknik selimut ini di grup. Saya masih belum paham waktu itu. Sekarang saya sudah mengerti dan ternyata gampang dan mengasyikkan sekali teknik selimut ini πŸ˜€

Jelek banget jadinya, gak rapi. Berkerut di sana sini. Tapi tetap senang karena berhasil menjahit sesuatu yang baru πŸ˜€ . Ini pouch cocok juga sepertinya dipakai sebagai cosmetic pouch πŸ˜€

Oiya sedikit tips dari saya. Kalau merasa belum akan rapiΒ  menjahit seperti saya, maka untuk menjahit gunakan saja bahan yang murah meriah seperti saya πŸ˜€ . Untuk dua proyek di atas saya menggunakan katun sprei untuk outernya. Murah lo, semeter cuma Rp.28.000,-. Lebarnya kira-kira 240cm. Sayang kalau langsung pakai bahan bagusΒ  hahaha. Untuk innernya untung saya dapet doorprize kain. Jadi kainnya bisa digunakan untuk proyek ini. Trus tinggal beli resleting. Semeter cuma dua ribu lima ratus hehehe. Kalau gak pakai pelapis juga gak apa apa sih. Cuma jadinya hasil jahitan kita melambai gitu. Gak bisa kokoh gitu hehehe

Sekian dulu cerita menjahit saya kali ini. Next mau bikin zetaya pouchnya mbak umi. Happy Sewing πŸ™‚