mayangkoto

my story, my life


1 Komentar

Cable Pattern Hat

Nah ini project menarik banget kalo diliat dari fotonya πŸ˜€

Image of Cable Pattern Hat

Lucu kan πŸ˜€ . Salah satu pertimbangan topi yang bakal kubikinin buat adekku, moga lancar amin πŸ˜€

Kalo ada yang mau polanya, silahkan ambil di sini.

Oya mau ngasih tau, kalo ada yang berminat sama free e-book. Silahkan gabung ke Knitting Daily. Disana selain nyediain e-book gratis, juga tersedia pola gratis. Met ngerajut πŸ™‚


2 Komentar

Easy cable-knit hat

Easy cable-knit hat

Buat beginner macam saya, membuat topi adalah salah satu project basic merajut. Nah dari judulnya aja udah bisa ditebak kan klo project ini gampang dikerjain. Ya setidaknya kalo dilihat dari polanya Insya Allah bakalan lancar ngerjain. Ini bakalan jadi next projectku. Soalnya adekku yang cowok minta dibikinin topi. Ini jadi salah satu alternatif pattern yang bakal kubikin. Kalo ada yang mau ikutan bikin, yok liat polanya di sini. Met ngerajut πŸ™‚


Tinggalkan komentar

Bagaimana Cara Menghitung Tensi atau Gauge

Standard Yarn Weight System merupakan patokan para perajut yang senang dengan aturan baku.
Bagi para perajut yang senang mengeksplorasi penggunaan jenis benang dan jarum atau perajutyang menyukai aturan baku tapi Standard Yarn Weight System tidak tersedia di benang yang kamu beli, ada cara menghitung tensi atau gauge rajutan agar produk yang dihasilakan sesuai dengan yang diinginkan. Caranya?

  • Ukurlah produk yang akan dibuat sepanjang apa (dalam cm)
  • Ambilah benang dan jarum yang akan digunakan untuk membuat produk.
  • Lalu rajutlah seseuai motif yang diinginkan sebanyak 10st atau kelipatan motif yang akan dipakai.
  • Rajutlah sekitar 10 baris
  • Ukurlah hasil contoh rajutan tersebut (dalam cm)
  • Lalu hitunglah jumlah stich yang harus dibuat untuk menghasilkan produk yang diinginkan

(10 atau kelipatan motif)x ukuran produk yang akan dibuat
Jumlah stitch yang harus dibuat =Β  ———————————————————————-
panjang contoh hasil rajutan

nah itulah cara menghitung gauge tanpa alat atau tanpa menggunakan Standard Yarn Weight System.
semoga bermanfaat.

source : http://byhandkinkin.blogspot.com/


Tinggalkan komentar

Sistem Standar Ketebalan Benang Rajut & Renda

(Standard Yarn Weight System for Knitting & Crochet)

Standard Yarn Weight System ini kurang popular atau jarang digunakan oleh para industri benang rajut (knitting) dan renda (crochet) di Indonesia. Padahal standard ini mempermudah para perajut (Knitter) ataupun perenda (crochetter) yang akan berkarya. Hal ini mungkin disebabkan oleh minimnya idustri pembuat knitting /crchetting yarn handmade di Indonesia.

Di Indonesia para knitter ataupun crochetter sering kali disuguhi benang tanpa identitas ataupun keterangan yang memadai. Dibeberapa negara lain identitas benang cukup memadai dari peruntukan benang sampai berat benang tersebut. Idealnya setiap gulung benang terdapat Standard Yarn Weight System.

Standard Yarn Weight System ini bukanlah standard berat benang seperti yang terbaca dari namanya, tetapi adalah standard ketebalan (diameter) dari suatu benang dan penggunaan jarum knitting atau pun jarum crochet sehingga untuk menghasilkan selembar rajutan berukuran 10 x 10cm diperlukan berapa stich atau yang biasa disebut dengan tensi (gauge).

Mari kita amati lebih dalam tentang tabel Standard Yarn Weight

Tabel ini di ambil dari Vogue
Standard Yarn Weight System memiliki 8 baris dimana baris 1 sampai 5 digunakan untuk Knitting sedangkan baris 1, 2, 6, 7, dan 8 digunakan untuk Crochetting.

Standard Yarn Weight System untuk Kniitting :

  • Baris ke 1 adalah Simbol dan nama benang
  • Baris ke 2 adalah jenis benang
  • Baris ke 3 adalah banyaknya chain (rantai) yang dibuat, sehingga menghasilkan ukuran 4’x4′ atau 10mm x 10mm.
  • Ukuran jarum rajut dapat terlihat di baris ke 4 dan ke 5. Baris ke 4 adalah ukuran jarum dalam satuan mm, sedangkan pada baris 5 menggunakan standard US (jarang digunakan di Indonesia –> dapat diabaikan)

Standard Yarn Weight System untuk Crochetting :

  • Baris ke 1 adalah Simbol dan nama benang
  • Baris ke 2 adalah jenis benang
  • Baris ke 6 adalah banyaknya cast on (simpul awalan) yang dibuat untuk contoh dengan menggunakan motif stockinette sehingga menghasilkan ukuran 4’x4′ atau 10mm x 10mm.
  • Ukuran jarum rajut dapat terlihat di baris ke 4 dan ke 5. Baris ke 7 adalah ukuran jarum dalam satuan mm, sedangkan pada baris 8 menggunakan standard US (jarang digunakan di Indonesia –> dapat diabaikan).

Tapi sayangnya, benang-benang di Indonesia tidak ada yang menggunakanΒ  Standard Yarn Weight System sehingga diperlukan cara untuk mengetahui tensi atau gauge saat akan membuat produk.

source : http://byhandkinkin.blogspot.com/


Tinggalkan komentar

Motif Kabel pada Rajutan

Tadi malem aku berhasil menyelesaikan percobaan rajutanku. Aku udah bisa bikin basket weave dari tusuk purl dan knit. Basket weave dihasilkan dari tusuk purl dan knit yang dibuat secara berselang seling. Aku mau coba bikin yang motif kabel. Aku udah nemu caranya disini . Tapi sayang aku belum punya jarumnya. Jadi untuk bikin motif kabel itu musti pake jarum khusus. Namanya cable needle. Tapi untungnya aku pernah liat di youtube cara bikin motif kabel tanpa jarum khusus itu. Jarumnya diganti pake kawat/besi. Semoga ntar aku bisa nemuin besi pengganti cable needle, hehe

Ini penampakan cable needle itu

Yang cable needle itu yang 3 biji ituloh, yang warnanya ijo, putih, ama pink. Kalo yang jarum hijau dua buah itu namanya jarum tapestry. Fungsinya buat menjahit rajutan kalo ada rajutan yang mau disatuin

Inilah bentuk motif kabel yang sudah jadi

Foto itu aku ambil dari sini . Kira-kira seperti itulah bentuk dari motif kabel. Kalo menurutku di foto itu rada ribet caranya. Aku mau bikin yang sederhana aja dulu. Yang penting bisa, hehe


Tinggalkan komentar

Hobi Baru

Kebiasan saya sekarang di waktu malam adalah merajut. Sejak tau tekniknya saya jadi keranjingan nyobainnya dan kalo sehari gak merajut itu rasanya penasaran banget. Berhubung saya masih belum punya jarum breien, saya memanfaatkan tusuk sate dulu sebagai alternatif. Tusuk sate yang saya pakai itu yang terbuat dari bambu, bukan dari lidi daun kelapa. Jadi lumayan kuat dan gede. Dan memang tusuk sate itu cocoklah buat dipake merajut, dari pada pake sumpit dan jarum hakken. Karena sebelum ini saya mencoba merajut pake sumpit dan jarum hakken, hasilnya mengewakan 😐

Lanjut ke proyek rajutan saya pake tusuk sate, sebelumnya saya udah posting di sini ,bahwa saya akhirnya berhasil bikin rajutan. Tapi karena saya pemula πŸ˜› maka hasil rajutan saya belum rapi. Kadang terlalu kencang narik benangnya. Sehingga hasil rajutannya ada yang gede ada yang kecil. Selain itu tepi rajutan tidak rapi dan menggulung 😦

Tapi setidaknya saya berhasil bikin motif basket wave. Ituloh motif yang menghasilkan knit dan purl berselang seling dengan bentuk kotak-kotak. Maaf saya belom bisa posting gambarnya πŸ˜€ (tapi pasti bakal saya posting) . Saya pengen banget bisa bikin yang gede. Soalnya yang saya bikin kecil banget. Cuma 14 tusukan (namanya aja percobaan πŸ˜€ ).

Sayang aku belom ngerti cara mengakhiri rajutan 😦 , udah pernah liat di youtube, cuma belom masuk ke otak. Belom sempat kudownload itu video. Jadilah rajutanku itu masih terpasang manis di jarumnya. Kalo sampe lepas pasti bakaln sakit hati banget, hehehe


3 Komentar

Tusuk Dasar Merajut (Knitting)

Kali ini aku bakal ngebahas tusuk dasar dalam merajut. Ada 2 tusuk dasar dalam merajut yaitu tusuk atas (purl stitch) dan tusuk bawah (knit stitch)

1. Purl Stich (tusuk atas/ tusuk belakang/ tusuk sungsang)
Untuk cara membuat tusuk atas, caranya bisa dilihat di sini . Berikut ini adalah gambaran bagaimana membuat tusuk atas

2. Knit Stitch (tusuk bawah/ tusuk depan/ tusuk lurus)

UntukΒ  cara membuat tusuk bawah, caranya bisa dilihat di sini . Berikut gambaran cara membuat tusuk bawah

Kali ini aku bakal ngeshare pengalaman aku waktu merajut. Awalnya aku taunya cuma tusuk knit doang. Jadi setelah membuat satu baris rajutan dengan knit stitch, aku masih membuat baris rajutan berikutnya dengan teknik knit stitch juga. Ternyata itu salah, kita harus menggunakan teknik knit stitch dan purl stitch secara bergantian. Karena kalo kita cuma make satu teknik aja, maka yang terjadi adalah hasil rajutan kita akan berbentuk purl dan knit berselang seling. Awalnya aku heran, dimana ya kesalahanku. Kenapa hasil rajutanku berselang-seling antara purl dan knit. Padahal aku pengennya rajutanku itu utuh bolak balik berbentuk purl dan knit. Paham gak maksudku?Β  Jadi rajutan yang normal itu bentuknya kalo penampakan didepan berbentuk purl stitch, maka penampakan di belakangnya pasti berbentuk knit stitch begitu juga sebaliknya. Nah itu gak terjadi pada hasil rajutanku. Aku penasarankan, jadi deh kemaren aku cari caranya di internet. Dapet deh teknik purl stitch dan malemnya aku cobain. Dan ternyata berhasil :mrgreen:

Ni ilustrasi hasil rajutan

Jadi intinya, knit stitch dan purl stich itu menghasilkan bentuk yang sama. Knit adalah purl yang dibalik, dan purl adalah knit yang dibalik πŸ™‚


Tinggalkan komentar

Jarum Rajut

Aku bener-bener pengen punya jarum breien untuk merajut (knitting). Kemaren sepulang kerja aku mutusin untuk pergi ke toko perlengkapan jahit dengan harapan semoga tokonya masih buka dan alhamdulillah tokonya masih buka. Awalnya aku gak nanya jarum dulu.Aku nanya benang katun untuk merajut dulu. AkuΒ  beli yang benang katun sembur, harganya Rp. 11.000 segulung. Nah benang udah ditangan abis tu aku tanya tu jarum rajut. Kirain harganya sekitar 30 ribuan gitu taunya harganya Rp 55.000,-.

Waw harganya sesuatu banget menurutku. Kekeke, kalo ditimbang ya memang wajarlah harganya, soalnya yang jarum hakken aja Rp. 5.000 sebatang. Dan ini jarum breien itu sepasang dan panjang pula. Ni ada fotonya aku nemu gak sengaja tadi. Kira-kira kayak di foto ini jarum yang ada di toko itu

Mirip banget deh ama yang di foto ini, persis malah. Cuman yang ditoko itu ukurannya 3mm, yang di foto ini kan 4mm. Karena menurutku terlalu mahal walaupun aku ada duit buat beli itu aku tanya sama yang punya toko. “Gak ada yang lebih kecil pak?” tanyaku, soalnya aku liat-liat d blog orang banyak jarum knitting yang kecil-kecil. TrusΒ  bapak itu jawab gak ada. Ya sudahlah pupus harapanku untuk beli jarum knitting kemaren.

Sampe di rumah aku pamer ke mama πŸ˜€ . “Beli benang kamu?” kata mama, “Iya ma” jawabku. Trus kubilang ke mama. “Ma, jarum rajut tu mahal” kataku, “Berapa” kata mama, “Rp. 55.000 ma” Jawabku. Dan ternyata reaksi mama juga sama kayak reaksiku, terlalu mahal. “Kamu beli?’ kata mama. Trus aku jawab kalo uni beli emang kenapa ma trus mamaku jawab gini “gila aja kamu jarum mahal kayak gitu dibeli juga”. Aku ketawa aja trus aku bilang gak jadi beli. Trus aku pamer kemampuan dasar merajutku di depan mama. Nekad aja aku, gak ada jarum sumpit pun jadi πŸ˜€ . Dan mamaku kayaknya terkesima gitu πŸ˜€ , dan akhirnya beliau bilang ntar pas kamu gajian belilah jarum tu. Wakaka, akhirnya direstui juga aku beli jarum sama mama, senengnya :mrgreen: