mayangkoto

my story, my life

Jalan-jalan ke Sawahlunto

Tinggalkan komentar

Sawahlunto adahal kota kecil yang terletak di propinsi Sumatera Barat. Kota ini dulunya terkenal sebagai kota penghasil batubara di Sumatera Barat. Batubara dikirim ke pelabuhan Teluk Bayur menggunakan kereta api. Saat ini produksi batubara sudah menurun, maka saat ini rute kereta api Padang-Sawahlunto sudah tidak aktif lagi. Oya, sekedar info aja, rute kereta ini khusus untuk batubara aja. Sepanjang pengetahuan saya sejak saya kecil, tidak ada kereta penumpang dari/ke Padang-Sawahlunto. Padahal pasti seru kalo ada kereta penumpang ke Sawahlunto. Soalnya jalurnya lewat tepian danau Singkarak. Pasti bagus banget deh view danaunya dari atas kereta. Sejarah kota ini mungkin lain kali aja saya posting. Lagi gak mood nyeritainnya hahaha.

Jadi saya sekeluarga tanggal 8 Oktober kemaren berkunjung ke Sawahlunto. Gak cuma ke Sawahlunto sih, sempat mampir juga ke Padang Panjang dan ke Kab. Tanah Datar. Kami ke Sawahlunto karena teman ayah saya mantu. Karena ibuk ini teman akrab ayah saya, makanya kami sekeluarga diboyong ayah pergi baralek ke Sawahlunto. Seneng banget kan, hitung-hitung refreshing πŸ˜€

Kami ke Tanah Datar dulu, ada perlu soalnya di Batusangkar. Lewat Padang Panjang kami singgah di Masjid Asasi Padang Panjang. Salah satu masjid tua di kota Padang Panjang. Bangunannya masih berciri khas masjid Minangkabau tempo dulu

Beautiful old mosque #mosque #masjid #padangpanjang #minangkabau #indonesia

A post shared by Mayang B. Andoeska (@mayang_b) on

Masjid yang sangat indah, dindingnya dipenuhi ukiran tradisional minangkabau. Masjid ini berupakan bangunan cagar budaya. Sayangnya tidak ada papan keterangan yang bertuliskan sejarah masjid. Cuma ada plang yang berisi bangunan cagar budaya berdasarkan undang-undang, dan larangan-larangannya. Mestinya kan ada plang info masjid ini dibangun tahun berapa. Di gapura masjidnya cuma ada tahun 2009 M. Entah itu tahun pemugaran, atau tahun pembangunan gapura. Mustinya kan tahun berdirinya masjid juga dicantumin ya. Biar orang tau sudah berapa usia masjid ini. Masjid ini masih ada rumah tabuahnya (beduk). Tapi beduknya sendiri sudah tidak ada. Kami tidak masuk karena pintu tertutup. Rasanya segan aja mau masuk kalo gak ada orang hehehe.

Lanjut ke Tanah Datar kami sempat mampir ke Pariangan. Yang katanya salah satu desa terindah di dunia. Adek saya nyeletuk yang mananya yang indah, kayaknya sama aja kayak tempat lain πŸ˜€ . Kalo kata ayah saya, kita salah masuk. Kami masuk lewat jalan yang di sisi jalannya ada kuburan panjang Datuk Tantejo Gurhano dan Balai Saruang. Kata ayah saya Pariangan ini salah satu nagari terbesar di Kab. Tanah Datar jadi jalan masuknya banyak hehehe. Tapi sayang kami gak sempat turun ke kuburan panjang. Padahal saya pengen banget ke kuburan ini lagi. Dulu sempat kesini waktu masih kecil, jadinya gak inget apa-apa. Soalnya kuburan ini unik. Kalo diukur dari ujung kiri ke ujung kanan, terus diukur lagi dari ujung kanan ke ujung kiri, maka hasilnya beda. Gak percaya? buktikan sendiri, yuk mampir. Kalo ke sumbar jangan lupa ke sini ya πŸ˜€

Di Tanah Datar juga sempet mampir ke Surau Lubuak Bauak. Saya gak turun, yang turun adek sama ayah saya aja. Ini juga salah satu masjid tua. Bangunannya mirip dengan masjid Asasi tadi, cuma yang ini gak pake ukiran khas minang di dindingnya. Di sebelah surau ini ada masjid yang lebih modern. Dan ada kolam ikannya. Saya liat kolamnya dari tepi jalan aja. Soalnya kalo mau ke kolamnya musti turun dulu. Liat dari tepi jalan aja udah puas kok. Ikannya gede-gede, jenis ikan mas kayaknya. Ada yang udah gede banget, gede segede-gedenya. Kayaknya itu kolam ikan larangan. Pengen deh ke kolam ikan larangan lagi tapi yang airnya jernih. Dulu saya waktu kecil pernah pergi ke kolam ikan larangan yang airnya jernih banget. Sampe semua ikan yang ada di kolam keliatan.

Setelah dari masjid ini kami langsung ke Swahlunto gak pake acara singgah-singgah lagi. Soalnya kalo kelamaan ntar sampe di Sawahluntonya kesorean. Temennya ayah saya itu bikin pesta di gedung. Setelah sampe di gedung yang dimaksud kami pun melongo. Gak ada tanda-tanda diadakan pesta disana. OMG gimana nih? masa’ pestanya udah selesai? gak mungkin banget soalnya. Akhirnya kami menuju rumah ibuk itu. Gak berapa jauh dari gedungnya. Cukup si ayah aja yang kesana. Dan ternyata tanggal pestanya itu tanggal 8 november, gubrak. Masalahnya si ayah ketemu sama ibuk itu bulan september. Ibuk itu cuma ngasih tau pestanya tanggal 8. Si ayah mikirnya ya tanggal 8 bulan depan (oktober). Secara tanggal 8 itu hari minggu pula. Pas banget buat acara pesta. Tak taunya si ayah salah kira. Hahaha gak papalah, gak pergi baralek pun gak apa-apa. Seenggaknya udah bawa anak jalan-jalan kan. Karena sudah di Sawahlunto, kami pun memutuskan untuk pergi ke Danau Kandi. Danau Kandi merupakan danau “tak sengaja” yang terbentuk dari lubang-lubang bekas tambang batubara. Lubang ini kemudian terisi air dari batang ombilin setelah jebolnya tanggul penahan tambang ini. Akibatnya lubang tambang terisi air dan terbentuklah sebuah telaga

Di sini kemudian dibangun taman satwa untuk menarik pengunjung datang ke kota ini. Tempatnya sepi, cocoklah bagi yang gak terlalu suka tempat wisata yang terlalu ramai. Karena sepi jadi enak berkunjung ke sini. Tempatnya sejuk. Walaupun kota Sawahlunto gak bisa dibilang dingin seperti di Bukittinggi. Yap, Sawahlunto memang bukan destinasi wisata utama di Sumatera Barat. Karena itu pemerintahnya terus berbenah agar bisa menarik pengunjung lebih banyak lagi. Walaupun sejauh yang saya liat tempat wisatanya masih sepi. Tapi saya suka kok, gak sumpek hehehe.

Di taman satwa ini ada siamang, owa, beraneka jenis burung, kura-kura, landak, buaya, rusa, kangguru kecil, orang utan, gajah. Ada burung kakak tua lo. Bisa ngomong dan bersiul. Dia bisa bilang kakak, kakak tua, sama assalamualaikum hehehe

 

Ada rusa juga. Ternyata rusa itu bisa bersuara juga ya, saya baru tau. Di sini ada dua jenis rusa. Rusa totol sama rusa jawa

Di danau kita bisa naik perahu, sepeda air dll. Tapi sayang waktu itu gak beroperasi. Gak tau kenapa. Suasanya sunyi, sepi, cocok nih buat yang nyari ilham πŸ˜€

Di tepi danau inilah kami makan siang. Seru lo piknik di sini, suasanya itu loh mendukung sekali. Sunyi, sepi, sejuk, alhamdulillah banget pokoknya. Habis dari sini kami menuju Padang melalui Solok. Sempat mampir di Arosuka (ibukota kab. Solok). Saya makan soto ayam. Dingin-dingin begitu di Solok enaknya makan yang hangat-hangat ya. Tapi sayang, harganya yang Rp.18.000 (lumayan untuk ukuran soto ayam) gak sebanding sama rasanya. Tapi enaknya di sana lagi gerimis, jadinya dingin banget. Mana saya duduk di depan jendela yang anginnya behembus bercampur gerimis, dingiiiin. Tapi saya suka πŸ˜€ . Di Padang jarang nemu soalnya hahaha.

Berakhir sudah acara jalan-jalan kami hari itu. Next pengen mampir ke kolam ikan larangan, kuburan panjang, ke lembah harau, banyaklah pokoknya :D. Nabung dulu πŸ˜€

Iklan

Penulis: mayang koto

Crafter and gardener

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s