mayangkoto

my story, my life

Mengenang Gempa Sumbar

8 Komentar

7 Tahun yang lalu tepatnya tanggal 30 September 2009, provinsi Sumatera Barat diguncang gempa besar berkekuatan 7.9 SR. Seribu lebih warga menjadi korban pada gempa itu. Saya ingin membagi pengalaman saya ketiga gempa itu datang

Saat itu masih dalam suasana idul fitri, kalau tidak salah kejadiannya 10 hari setelah lebaran. Saya masih kuliah pada saat itu. Sore setelah pulang kuliah saya sedang menunggu sinetron favorit tayang di tv😀 . Karena puasa jam tayangnya berubah, jadi sampai tanggal 30 itupun jam tayangnya masih sama seperti waktu bulan puasa. Sedang asyik menunggu di depan tv terasa bumi bergetar. Gempa kata saya dalam hati, tapi saya tidak beranjak dari depan tv karena saya pikir ini hanya gempa kecil biasa. Tapi ternyata gempanya tambah lama tambah kencang. Langsung lari, teringat adik masih di kamar saya masuk ke kamar untuk bawa si adik keluar. Perjuangan sekali untuk bisa keluar rumah, cuma beberapa meter saja padahal. Tapi susah keluar karena goncangannya hebat sekali. Jadi terpaksa merangkak. Sudah merangkak pun masih susah juga, karena saya harus bantu adik saya juga untuk keluar karena waktu itu dia masih 4 tahun. Alhamdulillah akhirnya bisa sampai juga keluar. Kami duduk di jalanan seperti yang dilakukan juga oleh tetangga lain. Karena memang tidak bisa berdiri. Saya cuma bisa berucap Ya Allah, Ya Allah berulang kali. Sempat bertanya dalam hati pada tuhan “Ya Allah akan sampai di sinikah umur hamba?” (Syukur alhamdulillah masih diberi umur sampai sekarang🙂 ). Akhirnya gempa berhenti, alhamdulillah rumah yang kami diami tidak apa-apa. Hanya retak-retak sedikit. Begitupun rumah tetangga yang lain. Kalaupun rusak, hanya sedikit saja. Atau rubuh sedikit, secara keseluruhan rumah-rumah di komplek kami baik-baik saja. Karena gempanya besar, dikhawatirkan akan terjadi tsunami. Rumah kami masuk zona bahaya tsunami, akhirnya ayah bilang untuk siap-siap pergi mengungsi. Kemana? menjauhi laut tentunya. Pergi ke arah atas, pokoknya sampai jalan by pass itu sudah aman. Motor hanya ada 1, akhirnya ayah dan ketiga adik saya naik motor. Sementara saya dan mama jalan kaki. Diputuskanlah kami pergi menggungsi ke pisang (dulu pernah tinggal di sana), mau nebeng ke rumah tetangga lama hehehe. Kalau yang lain banyak yang mengungsi ke Universitas Andalas, memang jauh sekali dari laut. Tapi dingin di sana kalau malam

Jadilah saya dan mama jalan kaki ke Pisang. Macet luar biasa, saya dan mama saja susah mau jalan. Apalagi kendaraan. Ada himbauan untuk memarkirkan saja mobilnya, lalu jalan kaki ke by pass. Jadi waktu keesokan harinya banyak mobil terparkir di tepi jalan. Akhirnya kami sampai simpang by pass di Andalas, perjuangan masih panjang untuk menuju ke Pisang. Setelah setengah perjalanan ada angkot lewat, akhirnya naik itu dan sampailah ke Pisang. Listrik padam, jadi gelap-gelapanlah malam itu. Disediakan makan malam oleh tetangga kami itu, padahal waktu itu mama habis masak nasi di rumah😀 . Alhamdulillah dapat tempat menginap, sementara yang lain mungkin harus tidur di jalan karena tidak ada tempat menumpang atau rumahnya hancur😦 . Keesokan paginya kami diantar pulang oleh si tetangga yang kebetulah juga ada perlu mau ke bawah. Karena waktu mengungsi itu maghrib saya tidak sempat melihat-lihat kedahsyatan gempa. Pagi itu baru melihat banyak bangunan yang hancur lebur😦 . Masjid Muhammadiyah di Simpang Haru yang memiliki 2 tingkat, ketika itu tinggal satu tingkat saja. Banyak ruko yang benar-benar hancur di sepanjang jalan Andalas-Sawahan. Sepanjang jalan banyak terlihat mobil-mobil terparkir tanpa ada orang di dalamnya. Itu yang akhirnya memarkirkan mobil dan meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki karena kemacetan yang luar biasa.

Setelah sampai di rumah, dapat kabar istri tetangga meninggal terkena reruntuhan hotel ambacang. Ceritanya tante ini beserta dua orang keponakannya pergi makan di KFC Ambacang. Di hotel ambacang itu ada gerai KFC. Pasti tahu ya, soalnya di TV banyak sekali diberitakan tentang Hotel Ambacang ini, karena kerusakannya parah sekali. Waktu gempa, dia sudah keluar bersama seorang keponakannya. Tapi melihat keponakannya yang seorang tidak ada, dia berpikir keponakannya masih di dalam. Jadilah dia masuk lagi ke dalam bersama keponakan yang satunya. Padahal si keponakan yang satunya lagi ini sudah keluar. Jadilah tante ini beserta seorang keponakannya tewas tertimpa runtuhan bangunan. Sementara si keponakan yang satunya cepat-cepat lari pulang untuk memberi kabar pada keluarganya. Ada juga cerita si mama, temannya ijin ke suaminya pergi ke pasar. Tapi waktu gempa itu sampai malamnya, keesokan paginya tidak juga kunjung pulang. Mungkin juga menjadi korban reruntuhan Pasar Raya Padang.

Kami bersyukur waktu gempa terjadi kami sekeluarga lengkap ada di rumah semua. Kalau tidak, pasti sudah kalang kabut karena sinyal ponsel mati. Keluarga di kampung juga alhamdulillah selamat. Selama beberapa minggu rumah kami tanpa listrik karena travonya entah jatuh, entah rusak, jadi harus menunggu travo yang didatangkan dari Pulau Jawa. Menyiksa juga, karena tidak bisa nonton tv, tidak ada lampu kalau malam. Ketika travonya tiba dan dipasang kami bersyukur sekali karena listrik akhirnya menyala kembali.

Alhamdulillah tidak terjadi tsunami. Kalau tsunami, pasti korban jiwanya lebih besar. Karena tetangga saya saja banyak yang tidak pergi mengungsi. Diramalkan gempa besar masih berpotensi terjadi di Sumbar. Gempa besar dan tsunami sudah tercatat dalam sejarah sumbar sebelumnya. Di Pariaman ada tempat yang bernama Galombang, tidak seberapa jauh dari rumah kami di kampung. Saya bertanya pada amak, kenapa tempat itu bernama Galombang? Kata amak, dulu pernah air laut naik. Galombang (gelombang) airnya sampai ke situ. Itu sebabnya tempat itu diberi nama galombang. Suatu bukti bahwa tsunami pernah terjadi di pesisir barat Sumatra tengah.

Gempa besar ini memicu eksodus besar-besaran orang-orang tionghoa keluar sumbar. Padahal eksodus besar-besaran ini tidak terjadi waktu kerusuhan Mei 98. Sampai saat ini, masih banyak rumah-rumah di kawasan pecinan kota Padang, yang setelah gempa dibiarkan begitu saja, karena sudah ditinggalkan pemiliknya pergi merantau ke luar sumbar. Padahal banyak diantaranya merupakan bangunan lama jaman belanda. Kalau teman-teman berkunjung ke Kota Padang dan singgah ke kota tua di sekitaran batang Harau, teman-teman masih bisa melihat bangunan yang hancur pasca gempa. Masih belum tersentuh sampai sekarang.

Penulis: mayang koto

Crafter and gardener

8 thoughts on “Mengenang Gempa Sumbar

  1. Aku bacanya kok ngeri bgt ya :’)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s