mayangkoto

my story, my life

Tradisi Berkurban di Minangkabau

6 Komentar

Orang Indonesia beberapa hari ini sedang senang karena bisa menikmati daging kurban yang dibagikan pada Idul Adha kemarin. Tapi saya amat-amati ada beberapa perbedaan tradisi orang di sini dengan orang-orang di tempat lain. Terutama di Pulau Jawa, karena banyak liputannya di TV.

Dikatakan bahwa berkurban seekor kambing lebih utama daripada berkurban dengan sistem saham 7 orang berkongsi untuk satu ekor sapi. Tapi orang Minang lebih suka berkongsi kurban sapi daripada berkurban seekor kambing. Beda sekali dengan yang saya lihat di TV. Kalau di pulau Jawa banyak yang saya lihat menabung untuk membeli kambing kurban. Di tempat tinggal saya ada dua mesjid, satupun tidak ada orang yang berkurban kambing. Kalau di sini pihak masjid yang mengkoordinir pembelian hewan kurban. Kalau di tempat lain apakah sama juga dengan di sini? Atau beli kurbannya sendiri-sendiri lalu diserahkan ke mesjid?

Lalu agak kaget juga melihat berita di tv. Pada berdesak-desakan demi mendapatkan kupon kurban. Soalnya kalau di sini, kupon kurban itu diantarkan langsung ke rumah. Mau yang menerima kupon itu orang berada kek, orang tidak berpunya kek, tidak ikut kurban kek, non muslim kek, semua mendapat kupon kurban. Dulu di tempat tinggal saya yang lama, tetangga kami yang bule amerika juga dapat kupon daging kurban lo 🙂 . Terus ada teman facebook saya yang buat status yang intinya kok di desa pembagian daging kurban bisa rata?. Berarti di kota tidak merata ya pembagian dagingnya?

Biasanya untuk 1 kupon dapat sekilo daging kurban. Babat/isi perut dan tulang biasanya dibagikan secara terpisah. Daging kurbannya dibuat apa? Sudah pasti rendang kalau tidak ya dendeng 🙂 . Babatnya digulai, tulangnya disup. Di Pulau Jawa saya lihat tradisinya bakar sate ya. Tapi di sini tidak ada tradisi bakar sate, karena yang kurban kambing jarang. Biasanya pun orang minang tidak pernah membuat sate kambing. Kambing biasanya digulai saja. Karena untuk orang Minang sendiri mengolah daging kambing itu sulit. Tidak semua pandai mengolah daging kambing. Mungkin karena alasan ini makanya orang minang jarang berkurban kambing hehehe

Itu sedikit cerita tentang tradisi berkurbannya orang minang. Bagaimana dengan tradisi berkurban di tempat tinggal teman-teman?

Iklan

Penulis: mayang koto

Crafter and gardener

6 thoughts on “Tradisi Berkurban di Minangkabau

  1. ditempatku masjid juga yang mengelola, tapi tetep ada orang yang bawa sapi atau kambing dari rumah terus diserahkan ke masjid… kalau pembagiannya beda beda sih, ada yang pake kupon terus disuruh ambil, ada juga yang diantar… 😀

    Suka

  2. Kalau tempat saya kesadaran untuk qurban begitu tinggi mbak, yang quran kambing mulai jarang, sudah menuju sapi ber7, untuk pembagian merata sekampung, diantar panitia… Dulu pernah disebar ke kampung lain, tapi sekarang kampung lainpun sudah banyak yang qurban, jadinya ya dibagi habis di kampung sendiri…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s