mayangkoto

my story, my life

Kenangan Belajar Bahasa Jerman

6 Komentar

Bahasa Jerman adalah bahasa asing lain yang dipelajari di SMA saya selain bahasa Inggris pastinya. Sebetulnya, saya tidak suka belajar bahasa jerman. Tapi mau bagaimana lagi, suka tidak suka, belajar bahasa jerman itu wajib hukumnya di sekolah saya. Tidak tahu kenapa, pokoknya pelajaran bahasa jerman ini susah masuknya ke kepala saya . Kalau bisa dapat nilai 60 saja luar biasa, bersyukur. Pokoknya saya berusaha agar tidak ikut remedial bahasa jerman. Tapi biasanya mayoritas penghuni kelas (kadang-kadang 100%), akan mengikuti remedial bahasa jerman. Sayangnya, saya selalu masuk dalam rombongan tersebut 😦

Guru bahasa Jerman kami perempuan. Semua kelas, dari kelas X sampai kelas XII, apapun jurusannya akan diajar bahasa Jerman oleh satu guru yang sama. Ya, sekolah kami pada waktu itu hanya punya satu orang guru bahasa Jerman. Jadi beliau ini guru paling super di sekolah kami. Soalnya cuma beliau yang punya jatah mengajar di seluruh kelas πŸ˜€ . Beliau tidak mau dipanggil “Buk” , jadi kami harus panggil beliau Frau πŸ˜€ . Nama beliau adalah Nela, jadi kami memanggil beliau dengan sebutan Frau Nela πŸ™‚ . Frau Nela ini mukanya bule sekali, aksen beliau ketika berbicara pun bukan aksen Minang. Karena saya waktu itu belum pernah mendengar langsung bagaimana orang Jerman berbicara. Maka saya pun berpikir aksen Frau Nela adalah aksen orang Jerman πŸ˜€ .Mungkin Frau Nela ada darah eropanya, saya tidak pernah bertanya πŸ˜€ . Saya menceritakan tentang guru bahasa jerman saya pada mama. Mama dulu waktu SMA di Jakarta juga belajar bahasa Jerman di sekolahnya. Guru mama mirip juga dengan guru saya. Muka bule, aksen juga seperti bule. Padahal guru bahasa jerman mama orang Minang juga sama seperti Frau Nela. Kata mama, guru bahasa jermannya pakai bahasa jerman juga dengan suaminya untuk percakapan sehari-sehari di rumah.Β  Frau Nela sampai saat ini masih aktif mengajar, tapi sudah pindah sekolah. Ketika saya lulus SMA di tahun 2007, lulus pulalah Frau Nela mengajar di sekolah kami. Suatu ketika, sewaktu saya beru-baru memakai facebook. Saya melihat list pertemanan teman kuliah saya. Ternyata ada nama guru saya tersebut. Langsung saya add Frau Nela, sampai saat ini masih berteman dengan beliau di facebook. Saat ini beliau mengajar di sebuah sekolah negeri di Padang.

Peraturan yang diberlakukan Frau Nela selama di kelas adalah, kalau mau permisi keluar selama jam pelajaran bahasa Jerman sedang berlangsung, maka harus minta izin menggunakan bahasa Jerman. Kalau tidak pakai bahasa Jerman, Frau Nela tidak akan kasih izin keluar. Jadi pastinya, satu sekolahan punya 1 kalimat yang pasti dihafal yaitu “Entschuldigung Frau Nela, Ich mΓΆchte zur Toilette“. Terjemahan bebasnya ” Maaf Buk Nela, saya mau ke toilet” πŸ˜€ . Kalimat ini masih saya ingat sampai sekarang, walaupun realitanya kalimat ini tidak pernah saya pakai selama jam pelajaran bahasa jerman sedang berlangsung. Terus biasanya tiap hari, sebelum masuk kelas untuk jam pelajaran pertama di hari itu, kita harus baris di depan kelas masing-masing. Sebelum masuk kelas harus salam cium tangan ke guru jam pelajaran pertama. Terus pas jam pelajaran terakhir, juga cium tangan ke guru jam pelajaran terakhir, tapi tidak pakai acara baris-berbaris. Kalau kebetulan pas jam pelajaran pertama bahasa jerman, pas masuk kelas selain cium tangan juga harus bilang Guten Morgen ke Frau Nela. Jadi biasanya kita akan berbicara seperti ini ke Frau Nela “Guten Morgen Frau Nela” atau biasanya hanya “Morgen Frau Nela” . Nanti Frau Nela akan membalas juga, misalnya “Guten Morgen Mayang” πŸ˜€ . Nah kalau pelajaran bahasa jerman, pas jam terakhir kita tinggal bilang Guten Tag sambil cium tangan ke Frau Nela. Kebetulan saat saya kelas X, Frau Nela menjadi wali kelas saya. Etek saya pun waktu SMA juga diajar oleh Frau Nela πŸ™‚ . Suatu ketika, hampir seluruh guru bidang studi ikut penataran sehingga banyak dari guru-guru tersebut yang tidak mengajar. Kami pun berharap Frau Nela tidak masuk kelas dan ikut penataran (Stres belajar bahasa jerman ceritanya πŸ˜€ ). Tapi Frau Nela tidak kunjung absen, selalu hadir mengajar. Akhirnya salah satu dari kami yang penasaran pun bertanya, apakah Frau Nela tidak ikut penataran. Ternyata Frau Nela penataran sekali lima tahun, dan langsung pergi ke jerman untuk penataran. Yah, pupus sudah harapan absen belajar bahasa jerman selama beberapa minggu.

Belajar bahasa Jerman di sekolah saya tidak menggunakan buku paket. Jadi harus fotokopi modul punya Frau Nela. Bahasa Jerman bisa dibilang lebih rumit dari bahasa Inggris. Kata-kata bendanya punya sifat/jenis kelamin(?) . Harus menghafal artikel untuk kata-kata sesuai sifat katanya. Kalau feminin artikelnya die, maskulin artikelnya der, neutral artikelnya das. Belum lagi bentuk kasus seperti Nominativ, Akkusativ, dan Dativ

Untuk kasus dativ ini, Frau Nela mengubah lagu Bruder Jacob. Jadi dinyanyikan seperti lagu bruder jacob, tapi kata-katanya diganti dengan preposisi dalam dativ

Aus, bei, mit, nach
Aus, bei, mit, nach
Zeit, von, zu
Zeit, von, zu
Alle mit dem Dativ
Alle mit dem Dativ
Zeit, von, zu
Zeit, von zu

Masih hafal saya lagunya, tapi terus terang saya tidak mengerti lagi tentang dativ ini πŸ˜€

Sekian dulu sekelumit cerita saya tentang pusingnya belajar bahasa jerman. Ceritanya saya sedang ingin mengenang masa-masa indah sekolah. Bagaimana dengan pembaca, apakah ada yang punya pengalaman pusing belajar bahasa asing juga seperti saya? πŸ™‚

Iklan

Penulis: mayang koto

Crafter and gardener

6 thoughts on “Kenangan Belajar Bahasa Jerman

  1. Wah nama gurunya spt namaku, cuma namuku ada dua “L” nya πŸ˜† . Artikel tuh harus dihapal sejak awal belajar bhs Jerman, gak boleh malas krn nanti tuh artikel nanti akan berubah saat bikin kalimat.

    Suka

  2. saya juga pernah belajar bahasa jerman satu semester ketika SMA mba, belajar bahasa jerman itu seru, tapi sayang, karena gak ada teman practice jadi lupa semua ilmunyaaa -_-

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s