mayangkoto

my story, my life

Pedagang yang “Pandai Menimbang”

4 Komentar

Saya sedang teringat cerita-cerita mama saya tentang sesuatu yang pembeliannya menggunakan takaran, semisal beras dan daging. Pembelian beras bagi masyarakat Minang biasa menggunakan “Gantang” sebagai takarannya. 1 gantang beras kira-kira sama dengan 2.5 liter beras. Dulu waktu saya kecil, mama saya pernah membeli beras pada orang yang bisa dibilang masih bersaudara dengan ayah saya. Mama membeli sekian gantang pada orang tersebut. Kebiasaan mama saya adalah, kalau membeli beras banyak (sekarung) selalu ketika beras sampai di rumah mama akan menghitung kembali menggunakan “tekong” . Nah beras yang dibeli pada orang tersebut segera ditekong ulang oleh mama dan jreng jreng ditemukanlah keanehan. Misal mama saya beli beras 10 gantang, maka beras yang kami terima tidak cukup 10 gantang. Mama saya tidak mau memperpanjang. Cukup tahu saja, dan tidak pernah lagi membeli beras di sana.

Ada cerita yang lain lagi tentang pembelian daging. Ini kejadian beberapa bulan yang lalu. Ceritanya mama saya membeli daging pada seseorang yang bisa dibilang masih bersaudara juga dengan ayah saya (lagi? iya😀 . Orang kampung ayah saya itu dikenal sebagai pedagang daging, beras, dan barang mudo (cabe, bawang, dll) ) . Mama saya membeli daging 1.5 kg, oleh si penjual setelah daging ditimbang berkata dia menambahkan galenye (tetelan) untuk ayah saya. Sampai di rumah daging tersebut ditimbang ulang oleh mama saya. Jreng jreng jreng, ternyata tidak cukup 1.5kg. Ditambahkan dengan tetelan pun tetap tidak sampai 1.5 kg😀 . Untuk kesekian kalinya, cukup tahu saja. Tidak akan pernah lagi membeli di sana

Mengapa pedagang ada yang curang ya. Padahal dalam Islam, pedagang yang mengurangi timbangan itu dosanya besar sekali. Apa tidak takut dengan tuhan ya? Na’udzubillahimindzalik

Penulis: mayang koto

Crafter and gardener

4 thoughts on “Pedagang yang “Pandai Menimbang”

  1. sekarang banyak banget ya yang curang begitu…
    dulu sempet bantu jualan nenek pas di pasar aja kalau timbangannya pas pasti kena semprot… disuruh dilebihkan dikit, istilahnya “diangeti” kalau di Jawa…

    Suka

  2. Ibu saya juga suka ngitung lagi beras yang ia beli… Tapi alhamdulillha, ngga masalah… Kalau daging juga. soalnya yang jual daging jemaah mesjid di sebelah rumahku. Ia merupakan toke daging di sana..🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s